Minggu, 03 Mei 2015

Menuju kebenaran

Bisa jadi kau menyukai sesuatu tapi itu tak baik buatmu. Dan sebaliknya bisa jadi kau membenci sesuatu namun itu baik untukmu.
Sederhana namun begitu jelas fakta yang ada. Entah sampai kapan manusia berada dalam kondisi nyaman menurut mereka, namun teramat buruk di mata Allah.

Hidup memang pilihan. Namun sebelum terlahir ke dunia pun Allah telah menanyakan. “Apa kamu siap menjadi khalifah? Mengerjakan perintahku dan menjauhi laranganku?” manusia pun menjawab “Ya Allah, aku siap”. Hingga ketika terlahir di sanalah manusia sendiri yang memisahkan dirinya dari agama kebenaran, karena sebenarnya kita semua terlahir dalam keadaan Islam. Yang membuat diri yahudi, nasrani dll bisa jadi keluarga atau keturunannya.  
Setiap tahapan dan proses dari sebelum adanya dunia maupun kehidupan setelah dunia Allah telah mengaturnya. Bagaimana interaksi manusia dengan hidupnya, dengan manusia lainnya Allah telah mengaturnya dengan sebaik-baiknya aturan. Namun faktanya manusia senang membuat aturannya sendiri. Enjoy dengan yang mereka anggap nyaman. Entah karena kesombongannya atau nalurinya yang memang demikian.

Peribahasa latin mengatakan Vox populi vox dei (suara rakyat adalah suara Tuhan), sama halnya hari ini kebanyakan kita tak sadar suara manusia bagaikan suara pengcipta. Percaya pada kebanyakan mereka, takut ketika ada perintah lantas melalaikannya. Namun tak menelaah terlebih dahulu perintah itu. Al-Qur’an mengingatkan kita “jika kamu mengikuti ‘kebanyakan’ orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti prasangka belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta(terhadap Allah). (Q.s.Al-Baqarah [6]:161}.

Dari kutipan ayat tersebut seperti yang terlihat namun kurang di sadari. Jika kita berbeda selalu ada rasa yang kurang nyaman, malu, minder, risih, dan memikirkan tanggapan orang yang jauh lebih lama menghabiskan waktu berpikir. Sementara, mendengar perintah yang sudah nyata kita masih mencari tahu kebenarannya, berpikir panjang mengikuti aturannya. Masih tak yakin, ingin hal yang lebih nyaman. Bukankah Islam datang dengan keadaan terasing begitupun kembalinya? Tak apa berbeda, selama kita benar, selama tak bertentangan dengan syariat, memgapa tidak? Bukankah penilai hanya Allah? Yakinkah mereka yang di ikuti hari ini kan menolong di akhirat? Mereka hanya mampu mempertanggung jawabkan diri mereka sendiri. 

Faktanya kebanyakan kita mengabtungkan kepada manusia permasalahan hidup jauh lebih besar dari pada menggantungkanya pada Allah. Dia lah pemilik hati, pemilik kebanaran, pemilik semua hal di muka bumi ini. Tak malu kah? Meminta banyak  padaNya namun tak mebdengar perintahNya? Ya Allah betapa sombongnya kami. 

Sebenarnya jika kita percaya akan adanya Allah, lantas buat apa merasa ragu dengan Al-Quran dan As-Sunnah? Adakah perbedaan di antara keduanya? Kagum dengan dunia, tapi tak ingin tahu cara mengaguminya? Inginkan syurga tapi berat mengejarnya. Terdengar sama halnya “jalan menuju neraka itu mudah, sangat mudah dan banyak kebahagiaan yang akan kau dapati. Sebaliknya, jalan menuju syurga itu berat, rintangannya sangat berat, namun di sanalah kebahgiaan hakiki itu”. Semuanya tergantung kita, mau sakit-sakit dahulu dan senangnya abadi? Atau mau senang-senang dahulu taubatnya nanti-nanti? Nantinya kapan? Yakin masih hidupkah kita esok?

Begitu sedihnya, ketika dalam kesunyiaan tak ada siapa-siapa, inginkan pertolongan memintanya kepada Allah. Namun sebaliknya, kemana saja kita ketika berbahagia?terkadang kumpul bersama kerabat, bersuka cita sholat pun kita menunda. Tapi lebih parahnya lagi ingat tapi seakan lupa mengerjakannya.

Ya Allah, kemana kami selama ini? Terlalu bahagia dari luar, namun bisa saja luka di hati semakin parah. Tipu daya dunia ini sangatlah hebat. Membuka mata kami secara lebar, tapi dapat menghidupkan kami di akhirat dalam keadaan buta.
Sepenggal cerita untuk kita yang tak mau tahu, tak ingin mencari tahu, tahu tapi pura-pura tak tahu akan Qalamullah. Innalillah.

Ya Allah ampuni diri yang diselimuti dosa, istiqomahkan dalam iman, bolak-balikkan hati dalam agamamu (Islam). Mengingatkan belum berarti lebih baik, namun mencoba menjadi pribadi yang lebih baik. Bukankah sebaik-baik manusia adalah yang bermanfat untuk manusia lainnya?

Wallahu a’lam bish shawab.

Tidak ada komentar: