Bisa jadi kau menyukai sesuatu
tapi itu tak baik buatmu. Dan sebaliknya bisa jadi kau membenci sesuatu namun
itu baik untukmu.
Sederhana namun begitu jelas
fakta yang ada. Entah sampai kapan manusia berada dalam kondisi nyaman menurut
mereka, namun teramat buruk di mata Allah.
Hidup memang pilihan. Namun sebelum
terlahir ke dunia pun Allah telah menanyakan. “Apa kamu siap menjadi khalifah? Mengerjakan
perintahku dan menjauhi laranganku?” manusia pun menjawab “Ya Allah, aku siap”.
Hingga ketika terlahir di sanalah manusia sendiri yang memisahkan dirinya dari
agama kebenaran, karena sebenarnya kita semua terlahir dalam keadaan Islam. Yang
membuat diri yahudi, nasrani dll bisa jadi keluarga atau keturunannya.
Setiap tahapan dan proses dari
sebelum adanya dunia maupun kehidupan setelah dunia Allah telah mengaturnya. Bagaimana
interaksi manusia dengan hidupnya, dengan manusia lainnya Allah telah
mengaturnya dengan sebaik-baiknya aturan. Namun faktanya manusia senang membuat
aturannya sendiri. Enjoy dengan yang mereka anggap nyaman. Entah karena
kesombongannya atau nalurinya yang memang demikian.
Peribahasa latin mengatakan Vox populi vox dei (suara rakyat adalah
suara Tuhan), sama halnya hari ini kebanyakan kita tak sadar suara manusia
bagaikan suara pengcipta. Percaya pada kebanyakan mereka, takut ketika ada
perintah lantas melalaikannya. Namun tak menelaah terlebih dahulu perintah itu.
Al-Qur’an mengingatkan kita “jika kamu mengikuti ‘kebanyakan’ orang-orang yang
di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak
lain hanyalah mengikuti prasangka belaka, dan mereka tidak lain hanyalah
berdusta(terhadap Allah). (Q.s.Al-Baqarah [6]:161}.
Dari kutipan ayat tersebut
seperti yang terlihat namun kurang di sadari. Jika kita berbeda selalu ada rasa
yang kurang nyaman, malu, minder, risih, dan memikirkan tanggapan orang yang
jauh lebih lama menghabiskan waktu berpikir. Sementara, mendengar perintah yang
sudah nyata kita masih mencari tahu kebenarannya, berpikir panjang mengikuti
aturannya. Masih tak yakin, ingin hal yang lebih nyaman. Bukankah Islam datang
dengan keadaan terasing begitupun kembalinya? Tak apa berbeda, selama kita
benar, selama tak bertentangan dengan syariat, memgapa tidak? Bukankah penilai
hanya Allah? Yakinkah mereka yang di ikuti hari ini kan menolong di akhirat? Mereka
hanya mampu mempertanggung jawabkan diri mereka sendiri.
Faktanya kebanyakan kita mengabtungkan kepada manusia permasalahan hidup jauh lebih besar dari pada menggantungkanya pada Allah. Dia lah pemilik hati, pemilik kebanaran, pemilik semua hal di muka bumi ini. Tak malu kah? Meminta banyak padaNya namun tak mebdengar perintahNya? Ya Allah betapa sombongnya kami.
Sebenarnya jika kita percaya akan
adanya Allah, lantas buat apa merasa ragu dengan Al-Quran dan As-Sunnah? Adakah
perbedaan di antara keduanya? Kagum dengan dunia, tapi tak ingin tahu cara mengaguminya?
Inginkan syurga tapi berat mengejarnya. Terdengar sama halnya “jalan menuju
neraka itu mudah, sangat mudah dan banyak kebahagiaan yang akan kau dapati. Sebaliknya,
jalan menuju syurga itu berat, rintangannya sangat berat, namun di sanalah
kebahgiaan hakiki itu”. Semuanya tergantung kita, mau sakit-sakit dahulu dan
senangnya abadi? Atau mau senang-senang dahulu taubatnya nanti-nanti? Nantinya kapan?
Yakin masih hidupkah kita esok?
Begitu sedihnya, ketika dalam
kesunyiaan tak ada siapa-siapa, inginkan pertolongan memintanya kepada Allah. Namun
sebaliknya, kemana saja kita ketika berbahagia?terkadang kumpul bersama
kerabat, bersuka cita sholat pun kita menunda. Tapi lebih parahnya lagi ingat
tapi seakan lupa mengerjakannya.
Ya Allah, kemana kami selama ini?
Terlalu bahagia dari luar, namun bisa saja luka di hati semakin parah. Tipu daya
dunia ini sangatlah hebat. Membuka mata kami secara lebar, tapi dapat
menghidupkan kami di akhirat dalam keadaan buta.
Sepenggal cerita untuk kita yang
tak mau tahu, tak ingin mencari tahu, tahu tapi pura-pura tak tahu akan
Qalamullah. Innalillah.
Ya Allah ampuni diri yang
diselimuti dosa, istiqomahkan dalam iman, bolak-balikkan hati dalam agamamu
(Islam). Mengingatkan belum berarti lebih baik, namun mencoba menjadi pribadi
yang lebih baik. Bukankah sebaik-baik manusia adalah yang bermanfat untuk
manusia lainnya?
Wallahu a’lam bish shawab.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar