Assalamu alaikum wr.wb.
"Namaku Indah, umurka hampir genap 20 tahun. Ini sepenggal ceritaku, dari sekian banyak kisah terlewati setelah hijrahku."
Bukan lebih baik namanya jika ilmunya itu-itu saja.
Bukan lebih baik namanya jika ilmunya tidak diperbaharui.
Seperti hal nya pisau, setajam apapun jika tak di asah bisa jadi tumpul.
Berawal dari An-Nur(24:31) dan Al-Ahzab(33:59)2 pedoman menutup aurat. Pelan-pelan meyakinkan diri, nyata sombongnya hati ini. Berat, sangat berat menaati perintah yang jelas nyata kebenarannya. Masih ku tanya ke sana kemari manfaatnya, bahkan terkadang mencari celah kesalahannya. Astagfirullah!
Berlanjut cerita, meniatkan hati, bertawakkal sembari berdoa Allah mengistiqomahkan diri ini. Ku kenakan kain itu, kain yang dulunya hanya untuk ibu-ibu, pakaian "jelek" di mataku, pakaian yang belum pantas untuk seusiaku, pakaian yang sungguh panas jika ku kenakan. Ini dahulu, pikiran negatif ketika melihat orang mengenakannya. Sungguh, kadang kuteringat ucapanku, mencela mereka yang berhijab syari, melihat dengan mata yang tak selayaknya, bagaikan mereka buruk di mata manusia. Ya Allah, besarnya dosa ini.
Pagi itu, ku niatkan semata karena Allah. Terlalu besar pikiran negatifku. "Ke kampus mengenakan baju itu, apakah aku pantas?". Bismillah sajalah. Sesampainya di kampus, nyatanya semuanya baik, pikiran yang tadinya buruk semuanya berubah menjadi tanggapan baik. Meski terkadang ada yang mengejek, namun di 1 sisi mereka mendukung. Kerudung yang memang belum syari, pelan-pelan kuturunkan sejengkal demi sejengkal kainnya.
Ini bukan dari masalah bagus tidaknya pakaian ku. Namun ini bagaimana layaknya seorang perempuan yang telah balig menaati perintah Allah nya. Ya Allah, kembali ku berkata dalam diri "sangat tidak pantas, sikapku, perilaku ku sangat jauh dari pakaian ini". Namun ini tidak mengerdilkan niatku. Tetap saja ku pakai pakaian ini, meski masih itu-itu saja, ku coba menguatkan diri. "Sejak hari itu,hingga selamanya ku lepas celana jeans dan baju -baju berpotonganku. Ku ganti dengan pakaian lebar dan gerah ini".
Hari berganti hari. Waktu berlalu dengan sangat cepatnya. Masalah pelan-pelan datang bergantian. Baik dari dalam diri, maupun dari lingkungan. Mungkin masalah itu tak layak di publikasikan, cukuplah pemerannya yang tahu.
Bukan sebuah proses cepat melalui perjalan ini. Berhijrah dari titik nol ingin mencapai puncak ketaatan tertinggi, bukan lagi pemikiran manusia jadi prioritas, namun bagaimana Allah menilainya. Sungguh, sebelum ini aku hanya mengenal Islam sebatas rukun iman dan rukun Islamnya. Tak jauh dari itu. Pelan-pelan manfaat hijrah itu mengalir. Malu rasanya jika keluar pintu saja tak memakai pakaian yang di kata orang baju ibu-ibu itu. Malu rasanya jika di lihat orang dengan kerudung yang kurang waro'.
Meski terkadang hawa nafsu merajai. Meski terkadang masih berpikir ketika mendengar ayat yang bertentangan dengan perilaku, meski terkadang berkata"sungguh, aku merindukan waktu bersama mereka di masa itu. Masa ketika diriku belum menjadi seperti sekarang ini, sungguh aku ingin. Namun, semuanya tidaklah lagi mungkin".
Tak ada yang salah dengan ucapan mereka, pilihan hidup dengan mengubah semuanya, bagaiakan hidup kembali, dengan hati yang baru, suasana baru, cara yang baru. Selalu ada pro dan kontra. Siap dengan celaan, kucilan, bahkan hinaan, dan berbagai tanggapan miring di laur sana.
Biarlah, ini pilihan, meyakinkan diri jika ini yang terbaik itulah pegangannya. Jika kelak ada yang mengkritik, itu bukti mereka memperhatikan.
Buatku, berada sejauh ini bukanlah perjalanan mudah. Tak ingin hanya dari 1 kata yang menyakiti hati aku berhenti lalu berbalik ketempat dimana sebelum aku berada. Hijrah itu sulit, namun istiqomah jauh lebih sulit. Kembali dalam khusnul Khotimah itu cita-citaku. Dan takkan mudah melaluinya.
Sahabat, cobalah. Pakai pakaian longgarmu, menutup seluruh tubuhmu(kecuali muka dan telapak tanganmu). Panjangkan kerudungmu. Jangan hanya saat berpesta kau kenakan. Namun, dimana pun itu ketika ada bukan muhrimmu. Cobalah, bercerminlah. Engkau lebih terjaga dengannya. Engkau lebih baik dengannya,engkau lebih anggun dengannya . Tak apa lelaki di luar sana tak ada yang melirik, bukankah itu lebih baik? Mereka menjagamu, menjaga pandangan untukmu.
Sahabat, aku mencintaimu. Engkau mengetahui bagaimana aku dahulu. Namun, tak ada yang berbeda. Allah ciptakan dengan potensi yang sama. Jangan menunggu waktu, dia pergi semakin cepat. Jangan sampai engkau lebih dulu pergi dari waktu yang engkau tunggu.
Sahabat, aku tak iri padamu. Hanya saja,aku takut murka Allah jika membiarkanmu. Melihatmu memajang fotomu, memperlihatkan kecantikanmu dengan auratmu. Mungkin buatmu biasa. Namun, itu berat pertanggung jawabannya. Sahabat, aku tak iri padamu. Tahukah kau? Batasan pergaulan itu sangat menjagamu. Meski berat cobalah. Batasi lah gerakan pertemanan lawan jenis itu. Jangan terlalu menganggap sepele suatu perkara. Andai kau tahu, kelak kau akan berkata "Allah mengapa aku baru sadar sekarang?".
Cobalah dulu. Jangan kau lihat siapa yang menasehatimu. Aku memang tak baik, tak tentu baik dari kalian, namun mungkin inilah amanah sebagai sahabatmu
Untukmu muslimah
Marilah mendekat
Mendekat dalam ketaantan
Bersama mendakati Allah
Jadilah sahabatku setelah hijrahku
Maafkanlah aku di masa jahiliyahku
Sungguh aku mencintaimu karena Allah.
Dari Anas RA dari Nabi SAW bersabda, “Tidak sempurna keimanan seseorang dari kalian, sebelum ia mencintai saudaranya (sesama muslim) sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.”
Dari seseorang yang tak baik, namun ingin menjadi baik "NURINDAH FAJARWATI YUSRAN".
Tidak ada komentar:
Posting Komentar