Apalah arti sebuah gelar
7 September 2016
Rasa syukur yang begitu besar ketika aku mampu mneyelesaikan satu amanah besar ini. 15 tahun lebih berada dalam bangky pendidikan bukanlah perjalanan singkat. Dan untuk yang satu ini aku menceritakannya dengan penuh pemaknaan. 3 tahun yang lalu, ia melepasku seorang diri, dengan lingkungan baru, dengan suasana baru semuanya hal-hal baru.
Memiliki motivasi tinggi kuliah dengan balutan komunikasi. Berharap setelah tamat nanti mampu bekerja dibalik layar, bertemu dengan banyak orang, mampu traveling gratis melihat gunung diberbagai tempat, bahkan dengan alasan konyol, ingin bertemu Yuki Kato, dan paling tidak bisa tampil di TV sebagai penyiar berita. Dengan pemikiran demikian, berada dalam area yang begitu awam dengan apa yang aku ceritakan tadi.
Tak mencari tahu informasi awal, dimana kira-kira kampus dan jurusan untuk pendeskripsian tersebut. Jika tak salah, sekitar bulan 2 dan bulan 3 ditahun 3013, disanalah aku dan teman seangkatan tengah sibuk-sibuknya memikirkan Ujian Nasional dan jurusan untuk menapaki jenjang perkuliahan. Dengan hati yang tak lagi menginginkan berhadapan dengan rumus-rumus, tak pernah berharap mengulang perhitungan kimia disanalah aku memutuskan Teknik Telekomunikasi.
Ada yang bertanya ingin kuliah dimana, tentu saja ke PDan jawabannya yang dengan alasan tadi. Dengaen sangat sok tahu memberikan argument sendiri terkait telekomunikasi yang telah telah tepat sasaran dengan yang saya inginkan. Impian tingkat tinggi inginkan kuliah jauh-jauh ditempat yang elit pula. Tak tanggung-tanggung memilih UNHAS dan ITB sebagai bahan percobaan tembak-tembak jurusan bahasa kerennya. “ Jika ditanya sebenarnya apasih cita-cita yang diinginkan? Tentu saja dengan spontan jawabannya “Menjadi Jurnalis yang kemana-mana bawa kamera dan tas slempang kecil”. Menganggap bahwa mereka dengan gaya demikian sangatlah keren, terlebih dengan balutan celanan jeans memakai id card yang bisa wawancara dimana-mana. Ada pula pejabat yang bisa jadi katakutan ketahuan kedoknya jika berbuat macam-macam pada rakyat, inginkan menjadi orang yang dihargai dan bahkan disegani masyarakat dengan pekerjaannya.
Sebenarnya paham betul jika di Makassar itu telah ada jurusan Junalistik di UIN Alaudin. Namun begitulah calon mahasiswa tergengsi dimasanya. Gengsi ingin kuliah yang didalamnya akan banyak bertemu orang sekampung. Kena persepsi jika kmpus yang terbaik itu hanyalah UNHAS di SULSEL. Singkat cerita, sebelum pengumuman Ujian Nasional disampaikan saya lebih dulu dinyatakan lulus disalah satu kampus di Makassar. Kampus yang awalnya hanya coba-coba, ikut-ikutan mendaftar dan tertarik dengan salah satu program studi yang tertulis disana “Teknik Telekomunikasi”.
Lulus dengan perasaan bahagia dan biasa-biasa saja. bahkan awalnya tidak kepikiran untuk mendaftar ulang. Mendaftar ulang pun sebenarnya ada sikap ikut-ikutan saja dengan teman lain yang lulus, dan disisi lain mendaftar ulang dikarenakan lulus dengan jurusan “Teknik Telekomunikasi”. Tak lama setelah pengumuman itu kedua orangtua mengantarkanku ke kampus untuk mendaftar ulang. Momentum mendaftra ulang inilah yang 50%aku telah dinyatakan salah satu CMABA dari kampus tersebut.
Sosok dibalik ceritaku yang paham betul keinginanku. Seorang Ummi yang kasih sayangnya takkan sama dengan yang lain. Sosok yang paling inspiratif untuk diriku sendiri. Dia mengikuti saja apa inginku dan selalu mendukung tiap langkah dalam perjalananku hingga hari ini. Hari dimana aku begitu galau dengan pilihanku di 3,5 tahun yang lalu. Ketidaktahuanku sama sekali akan jurusan yang sedang kujalani saat ini. Seolah-olah memaksaku untuk menyelesaikannya secepatnya mungkin.
Sebelum terjebak dalam pilihan sendiri, aku tak pernah membayangkan jika ini terjadi padaku. Memang benar Allah memudahkanku memasuki gerbang kampus, namun mengapa aku sendiri yang memberatkan hatiku untuk keluar dari sana? Bukan karena aku teramat betah dalam jurusannya, namun sebaliknya karena hatiku tak pernah berada terlebih untuk menyatu di dalamnya. Namun begitu dalam ingatanku akan perkataannya ketika aku telah mengeuhkan pilihanku.”yang memilih adalah dirimu sendiri, dan kamu telah melewati beberapa jam perjalanan di dalamnya, jalani sajalah bisa jadi kamu akan menikmatinya dihari esok.” Namun lebih dari itu ia pun berkata “Jika kamu tak menyukainya, silahkan pindah kemana tempat yang kamu inginkan”.
Dan ditahun berikutnya ketika aku kembali mengeluh dan semakin mengeluh ia kembali berpesan. “selesaikan sajalah dulu, setelahnya barulah kamu menentukan pilihanmu”. Dan pesan ketiga inilah yang tengah aku kerjakan. Bersama malam dalam tangis penyesalan, namun disisi lain bersama malam dalam tangis kebahagiaan. Aku begitu mengakui tak pernah menikmati tiap proses yang telah kulalui selama aku berpredikat sebagai seorang mahasiswi kampus negeri. Bahkan kujalani semuanya dengan pemaksaan untuk diriku sendiri”aku harus menyelesaikannya”.
Entah karena apa, hatiku sangat amat kuat pada impianku yang masih dalam khayalanku. Masih begitu kuat inginku dengan impianku itu. Aku takkan pernah mampu menghayati diriku berhadapan dengan osiloskop dengan membawa penelitian, bersama dunia teknik yang bukan aku. Aku begitu mengakui betapa hebat orang-orang yang mampu menyelesaikan kuliahnya di teknik elektro hingga menjadi seorang Professor, Doktor, Master, Sarjana, bahkan sekedar D3.
Dan lagi-lagi dengan pemikiran demikian aku kembali bodoh. Berprinsip tipis dengan kata”jika aku keluar di dunia teknik ini bisa jadi aku tegolong orang lemah. Bukankah teknik diperuntukkan untuk mereka yang cerdas, dan bukan orang-orang biasa?”. Bahkan jika ingin lari dari rutinitas itu aku kembali mengenang kata-kataku sendiri. Karena aku faham betul diriku sendiri, aku bukanlah Inda yang kalah dan ingin menyerah begitu saja.
Seiring berjalannya waktu, semua aktifitas mengalir seolah-olah keikhlasan ini full dalam jiwaku. Namun, melihat berita, menonton tv, melihat tulisan sastrawan dan yang berbaur demikian hatiku hanya terfokus pada mimpiku yang lalu. Dan terus-menerus aku menceritakan siapa diriku “aku bukan disini”.
Tahun pertama perkuliahan gagal keluar kampus dikarenakan bimbang mau memilih jurusan apa, tak mendapatkan kampus yang sesuai dihati, takutnya dikampus yang baru malah tidaknyaman, dan masih ada beberapa hal lagi sebagai dalih penguat alasan.
Ditahun kedua mencoba pindah kuliah malah tidak lulus. Kembali menyemangati diri “mungkin takdirku sudah disini”. Terasa aneh, konyol, bodoh, bahkan kasihan. Memanjakan diri sendiri megikuti proses dalam zona ketidakpuasan dan ketidaknyamanan. Subuh tadi, ummi kembali menanyakan “Kapan TA? Kenapa belum naik-naik ujiannya?”. Sebenarnya tidak trauma dengan pertanyaan itu hanya saja sedih ketika ditanyakan nanti gelar dari jurusan apa.
Ada yang mengatakan teknik itu keren. Dan aku menjawabnya memang keren, namun saking kerennya aku belum pernah puas menjadi bagiannya. Jika ada yang membaca tulisan ini, mereka mengetahui latar belakangku dimasa jahiliyah dan sekarang sedikitnya aka nada yang berpikiran. Mengapa yang mengkaji Islam begini pemikirannya. Dan maaf aku belum mampu menjawab itu hari ini. Saat ini aku tengah memaksakan proses untuk segara bergelar A.Md demi menyelesaikan misi sebagai anak teknik. Kecewa dengan pencapaianku diakhir menjadi momok yang disisi lain “mengapa aku masih perduli?”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar