Buya Hamka
Sosok seorang Ayah yang amat dicintai
keluarganya. Seorang ulama Indonesia yang telah mahsyur namanya. Buku ini
membuat saya tak ingin menghilangkan ingatan seperti layaknya buku-buku yang
lain. Sebatas dibaca, tak ada resensi dan lupa hikmah apa saja yang lahir dari
bukunya. Namun, waktu kali ini amat terbatas untuk menuliskan yang lebih banyak
dari ini.
Prof Buya Hamka, dari buku Ayah saya
tahu sedikit tentangnya. semoga amal ibadahnya terus mengalir Nama lengkapnya
adalah Haji Abdul Malik Karim Amrullah, namun biasa dikenal Buya HAmka, dan
nama penanya Hamka. Lahir di Maninjau, Sumatera Barat, pada 17 Februari 1908.
putra pertama pasangan Dr. Abdul Karim Amrullah dan Shaffiah. Ayahnya seorang
ulama.
Sering mendengar cerita tentang karyanya
yang fenomenal dibangku SMA. Tenggelamnya kapal Van der Wijck, ini merupakan
bacaan pertama yang tak sengaja saya dapat diperpustakaan sekolah. Awalnya
cukup membosankan membaca bukunya, bawaannya ingin tidur, bahasa melayu dan
ejaan lama bercampur hingga beberapa hari barulah saya menyelesaikan buku itu.
Kisah percintaan yang terbaur dalam kata
nan indah serta sederhana. Karya ini semakin abadi beberapa tahun setelah saya
membaca buku ini, dengan dibuatnya film dengan judul buku yang sama.
Karya ini tidaklah seserhana yang kita
baca. Dalam kisah biografi beliau, terjadi beberapa permasalahan terkait buku
tersebut. Fitnah kepada beliau diawal tahun 1963, dalam 2 surat kabar, Harian
Rakyat dan Harian Bintang Timur dikatakan bahwa buku tersebut merupakan
jiplakan. Lembaran lentera ini diasuh oleh Pramoedya Ananta Toer.
Imbasnya, bukan hanya pada bukunya serta
perolehan upah penerbit dan penulis. Namun, keluarga pun khususnya anak-anak Buya Hamka mendapatkan banyak
sindiriran akan fitnah kepada ayah mereka.
Lewat buku ini saya
mengetahui pula, Hamka kecil yang tampan dan menjadi harapan besar ayahnya
untuk menjadi penerus dirinya sebagai ulama penuh dengan hinaan serta ujian.
Ibu dan ayahnya bercerai, kemudian masing-masing menikah kembali. Setelahnya
pendidikan Hamka terbengkalai. Ia kemudian nekat merantau ke tanah Jawa. Hamka
muda yang tampan, bersih, berambut tebal dan perawakannya bagus akhirnya harus
berganti dengan wajah penuh bekas cacar. 3 bulan sakit membuat tubuhnya penuh
dengan bekas cacar, rambutnya yang tebal jadi setangah gundul.
Bahkan suatu kali Buya
Hamka di hardik dengan kata pedas. “Hai Malik jangan kau bermain bersama
adik-adikmu, mukamu buruk seperti kotoran kerbau kena hujan!. Kata angku itu.
Singkat cerita, Buya
Hamka kemudian diminta ayahnya melanjutkan sekolah Muhammadiyah yang ada di
kampung mereka. Sekolah yang pada dasarnya dibangun oleh ayahnya sendiri.
Namun, betapa malang nasib Hamka, setelah mengikuti tes untuk menjadi tenaga
pendidik di sekolah ayahnya sendiri, ia dinyatakan tidak lulus karena tidak
memiliki ijazah Diploma. Semakin manjadi erasaan sedihnya. Namun, tak ingin
terus menerus dalam kekecewaan, Buya kemudian kembali merantau di tanah Jawa.
Ia kembali dengan ilmu yang mampu membuatnya menyampaikan dakwahnya. Lama
kelamaan masyrajat hanya menyadari bahwa Buya hanya pandai berpidato, dalam
membacakan ayat-ayat Al-Quran dan bahasa Arab dia mendapatkan banyak celaan.
Oleh sebab itu, ia kemudian memutuskan merantau ke Mekkah untuk menimba ilmu dn
memperbki tiap celaan dan kritikan yang diberikan padanya. Tanpa sepengetahuan
ayahnya, belum genap berumur 18 tahun disana ia merasakan penderitaan yang
sangat pedih. Ia kemudian bekerja sebagai pegawai dalam percetakan, yang dengan
pekerjaan itu pula disela waktunya ia habiskan untuk membaca buku-buku agama.
Awalnya Buya meniatkan
dirinya untuk bermukim berapa tahun dikota Mekkah, namun ketika beliau bertemu
dengan Haji Salim, ia menyarankan agar Buya segera kembali ke tanah air.
Sesampainya ditanah
air, singat cerita ayah Buya Hamka betapa senangnya ketika mengetahui anaknya
telah Haji. Kembali kebangannya pada sang anak. Sejak saat itu, Buya kembai
melanjutkan cita-cita ayahnya dan cita-citanya sendiri sebagai seorang ulama
dan sastrawan yag dikenal hinga saat ini.
Bagi saya pribadi,
pembelajaran dari sosok ulama satu ini sangatlah banyak. Tentu saja dengan
membaca bukunya kita akan lebih memahami. Keberadaan seorang ulama dinegeri
kapitalisn hari ini sangatlah dibutuhkan dunia. Andai saja ada jutaan ulama
seperti Buya Hamka…
~ lanjutannnya setelah
buku yang lain ~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar