Rabu, 11 Januari 2017

Buya Hamka Resensi


Buya Hamka

Sosok seorang Ayah yang amat dicintai keluarganya. Seorang ulama Indonesia yang telah mahsyur namanya. Buku ini membuat saya tak ingin menghilangkan ingatan seperti layaknya buku-buku yang lain. Sebatas dibaca, tak ada resensi dan lupa hikmah apa saja yang lahir dari bukunya. Namun, waktu kali ini amat terbatas untuk menuliskan yang lebih banyak dari ini.

Prof Buya Hamka, dari buku Ayah saya tahu sedikit tentangnya. semoga amal ibadahnya terus mengalir Nama lengkapnya adalah Haji Abdul Malik Karim Amrullah, namun biasa dikenal Buya HAmka, dan nama penanya Hamka. Lahir di Maninjau, Sumatera Barat, pada 17 Februari 1908. putra pertama pasangan Dr. Abdul Karim Amrullah dan Shaffiah. Ayahnya seorang ulama.
Sering mendengar cerita tentang karyanya yang fenomenal dibangku SMA. Tenggelamnya kapal Van der Wijck, ini merupakan bacaan pertama yang tak sengaja saya dapat diperpustakaan sekolah. Awalnya cukup membosankan membaca bukunya, bawaannya ingin tidur, bahasa melayu dan ejaan lama bercampur hingga beberapa hari barulah saya menyelesaikan buku itu.

Kisah percintaan yang terbaur dalam kata nan indah serta sederhana. Karya ini semakin abadi beberapa tahun setelah saya membaca buku ini, dengan dibuatnya film dengan judul buku yang sama.

Karya ini tidaklah seserhana yang kita baca. Dalam kisah biografi beliau, terjadi beberapa permasalahan terkait buku tersebut. Fitnah kepada beliau diawal tahun 1963, dalam 2 surat kabar, Harian Rakyat dan Harian Bintang Timur dikatakan bahwa buku tersebut merupakan jiplakan. Lembaran lentera ini diasuh oleh Pramoedya Ananta Toer.

Imbasnya, bukan hanya pada bukunya serta perolehan upah penerbit dan penulis. Namun, keluarga pun khususnya  anak-anak Buya Hamka mendapatkan banyak sindiriran akan fitnah kepada ayah mereka.

Lewat buku ini saya mengetahui pula, Hamka kecil yang tampan dan menjadi harapan besar ayahnya untuk menjadi penerus dirinya sebagai ulama penuh dengan hinaan serta ujian. Ibu dan ayahnya bercerai, kemudian masing-masing menikah kembali. Setelahnya pendidikan Hamka terbengkalai. Ia kemudian nekat merantau ke tanah Jawa. Hamka muda yang tampan, bersih, berambut tebal dan perawakannya bagus akhirnya harus berganti dengan wajah penuh bekas cacar. 3 bulan sakit membuat tubuhnya penuh dengan bekas cacar, rambutnya yang tebal jadi setangah gundul.
Bahkan suatu kali Buya Hamka di hardik dengan kata pedas. “Hai Malik jangan kau bermain bersama adik-adikmu, mukamu buruk seperti kotoran kerbau kena hujan!. Kata angku itu.
Singkat cerita, Buya Hamka kemudian diminta ayahnya melanjutkan sekolah Muhammadiyah yang ada di kampung mereka. Sekolah yang pada dasarnya dibangun oleh ayahnya sendiri. Namun, betapa malang nasib Hamka, setelah mengikuti tes untuk menjadi tenaga pendidik di sekolah ayahnya sendiri, ia dinyatakan tidak lulus karena tidak memiliki ijazah Diploma. Semakin manjadi erasaan sedihnya. Namun, tak ingin terus menerus dalam kekecewaan, Buya kemudian kembali merantau di tanah Jawa. Ia kembali dengan ilmu yang mampu membuatnya menyampaikan dakwahnya. Lama kelamaan masyrajat hanya menyadari bahwa Buya hanya pandai berpidato, dalam membacakan ayat-ayat Al-Quran dan bahasa Arab dia mendapatkan banyak celaan. Oleh sebab itu, ia kemudian memutuskan merantau ke Mekkah untuk menimba ilmu dn memperbki tiap celaan dan kritikan yang diberikan padanya. Tanpa sepengetahuan ayahnya, belum genap berumur 18 tahun disana ia merasakan penderitaan yang sangat pedih. Ia kemudian bekerja sebagai pegawai dalam percetakan, yang dengan pekerjaan itu pula disela waktunya ia habiskan untuk membaca buku-buku agama.
Awalnya Buya meniatkan dirinya untuk bermukim berapa tahun dikota Mekkah, namun ketika beliau bertemu dengan Haji Salim, ia menyarankan agar Buya segera kembali ke tanah air.
Sesampainya ditanah air, singat cerita ayah Buya Hamka betapa senangnya ketika mengetahui anaknya telah Haji. Kembali kebangannya pada sang anak. Sejak saat itu, Buya kembai melanjutkan cita-cita ayahnya dan cita-citanya sendiri sebagai seorang ulama dan sastrawan yag dikenal hinga saat ini.
Bagi saya pribadi, pembelajaran dari sosok ulama satu ini sangatlah banyak. Tentu saja dengan membaca bukunya kita akan lebih memahami. Keberadaan seorang ulama dinegeri kapitalisn hari ini sangatlah dibutuhkan dunia. Andai saja ada jutaan ulama seperti Buya Hamka…


~ lanjutannnya setelah buku yang lain ~

Tidak ada komentar: