Kamis, 18 Juni 2015

DEAR YOU

Assalamu alaikum wr.wb.

Ku ceritakan ini bukan untuk mengusik hidupnya. Mengingat semua kenangan bersamanya, dan bukan pula untuk dekat kembali dengannya. Cerita ini semata untuk melihat, kebaikan demi kebaikan ketika bersamanya dan sebaliknya.
Bismillahirrohmanirrahim
Bagaimana kabarmu? Semoga selalu diberi yang terbaik. Tepat setahun sudah semuanya ku lewati antara ada dirinya dan tidak. Lebih tepatnya 7 bulan sudah mungkin tiada artiku lagi buatnya. Semuanya telah usai, telah usai.

Ketika dia memutuskan hubungan kami semua berbalik. Kuliahku tak lagi berarti, ku jalani semuanya meski hati ini tak berada di sana. Hp yang awalnya selalu berbunyi, kini hanya bergetar untuk alarm bangun tidurku. Namun bukan ini yang membuatku sering menangis, ada banyak hal lain. Meski telah nyata semangatku yang begitu down, nilai kuliah yang nyaris tak pernah ku bayangkan sebelumnya, masih saja ku tak tahu cara apa lagi mengembalikan semuanya. Semangat yang telah hilang, semangat yang harus ku bangun kembali dengan kekuatanku sendiri.

Kuupayakan berbagai hal untuk melupakannya. Meski rasanya teramat sulit. Sebelum kami putus telah kuputuskan untuk berhijab, meski belum sesempurna syariat. Ku tahu pada akhirnya akan mempengaruhi hubungan kami. Ku tak ingin memutuskannya lebih dulu, karena sungguh terlalu berat hatiku berpisah dengannya. Bahkan aku teramat memalukan diriku sendiri di hadapannya.

Di awal-awal teramat berat, aku sering menghubunginya, meski semakin menyakitkan jika dia lama membalasnya.
Yang ku tahu ketika putus, alasnnya adalah aku yang tak lagi sama, dia ingin fokus pada kuliahnya, dan tepatnya mencari seseorang yang lebih mendengarkannya di banding diriku.

Namun, tetap saja cinta dan nafsu itu jauh lebih besar di banding rasa sakit dan kecewa. Buatku, dia teramat berarti, terlalu baik dan takkan rela hatiku melihatnya dengan orang lain.

Namun, dari caranya menyikapi sikapku, aku tahu dia bukan lah buatku. Hatinya tak lagi untukku. Dan lebih menyakitkan lagi jika aku memaksanya mencintaiku.

Dia yang awalnya teramat perhatian, kini seminggu dengar kabarnya pun teramat berharga. Sungguh, semuanya berbalik.

Upayaku untuk move on pun ku coba setiap hari. Ku tak ingin mengulangi dosa ini, ku berusaha mengejar cinta pemberi cinta ini. Meski hatiku tidak di kampus, aku nyaman kuliah, halqoh, kuliah halqoh. Teman yang salih, di sanalah kuberupaya sekuat mereka. Aku hanya berfokus untuk melepas semuanya, mengikhlaskannya meski sulit, selalu menerima takdir yang di berikan Allah buatku.

Ku ambil berbagai hal positifnya, mski di satu sisi bayangannya selalu ada. Terkadang ketika kumulai lepas dari banyangannya, dia datang hanya sekedarnya. Chat 1 2 kata. Namun, ini semakin membuatku menangis. Bagaikan sihir darinya, ku mengingatnya lagi.

Salahku memang yang mencari tahu tentangnya. Kututup akun ku, mulai dari twitter, fb, bahkan kadang bbm pun aku tutup beberapa jam. Buatku kenangan akan dirinya dimana pun selalu menemaniku.

Tak pernah kubayangkan sebelumnya akan sesakit ini. Akan seperti ini akhir cerita kami, dan akan seperti ini dia melewati harinya setelah lepas dariku.
Hati mana yang tak sakit melihat yang di sayanginya dekat dengan yang lain, memperhatikan yang lain, bahkan menyukai yang lain. Di sinilah ku bangun kekuatan yang semakin hari makin menyakitkan.

Menangis, hanya itu caraku. "Tak ada hak memaksakan hati seseorang untuk mencintaimu". Mungkin ini yang paling tepat untukku. Aku takut satu hal, dia yang dulunya menyayangiku, jangan sampai esok membenciku. Begitu pun denganku.

Pernah aku berpikir, ini skenario Allah, atau skenario nya semata. Mengapa tidak, hari pertama kami membangun komitmen telah dia ceritakan masalahnya yang sebenarnya. Kulewati semuanya dengan ketulusanku, tak pernah kuperpikir jauh sedikitpun dengannya. 
Ku hanya ingin membantu nya melewati hari seperti apapun itu. Namun, ketika semuanya pelan-pelan membaik. Dia kembali ke tempat yang dia inginkan, mulai pula dengan mudahnya iya mengakhirinya. Bagaikan aku hanya latar belakang layar tiada arti. Pernah aku berpikir, dia mencariku ketika tak ada seseorang bersamanya, hanya itu. Dia membutuhkanku, ketika yang lain sibuk dengan urusannya. 

Ahh sudahlah, teramat sakit jika ku mengingat banyak kenangan itu.

Sebulan yang lalu, aku tak tahan dengan kekecewan itu. Mungkin, itulah hari terakhir kerinduanku kulampiaskan. Membangun komitmen untuk diriku sendiri lebih tepatnya. Kujelaskan padanya. Meski mungkin tak berarti buatnya. Maaf jika mengganggumu di kala itu. Maaf.

Inikah cinta itu, layakka ku sebut cinta. Ini bukan cinta, ini nafsu yang pernah bermain di hati kami. Aku baru menyadari dosa-dosaku ketika aktif si kajian Jumat. Jujur hal berat mengenakan hijab salah satunya adalah ini. Aku tahu memang pada akhirnya hijab membuatku malu dengan status"pacaran". Namun, pelan-pelan tak kuperdulikan itu. Kubiarkan waktu terus berjalan, dan lebih tepatnya kegalauanku selalu memuncak.

Kadang, ditengah sibuknya aku protes, tak lagi ada perhatiannya, tak lagi ada dia ketika kubutuhkan. Aku setiap menunggunya, menunggu kabarnya, meski air mataku dan hati selalu saja gelisah. Kupercaya tak ada pihak ketika hubungan kami selain kesibukan.

Pernah suatu ketika dia membuatku menteskan air mata begitu lama, ketika ku tahu dia tak membalas smsku, namun berkomunikasi dengan teman perenpuannya. Di situ kumulai merasakan titik kekecewaan yang berlebih. Dia memang pacar pertamaku, tak pernah ku rasakan hal yang sama sebelumnya, dan tepatnya ku tak tahu cara menyelesaikan perasaanku. AKu berpikir, andai dia masih menyayangiku, sesibuk apapun dia akan memberiku kabar. Dia tak seperti ini setahun yang lalu, dia yang ku kenal bukan dirinya kini. Aku berpikir bodohka ini? Mempertahkan seseorang yang kusayangi dengan berbagai cara, ku luangkan setiap waktu untuknya. Namun dirinya , pedulika iya dengan perasaanku? Kemana saja dia dengan janjinya itu? Sungguh sakit rasanya. kembali lagi ku protes terhadapnya. Namun anggapannya biasa saja, datar bagaikan tak terjadi apa-apa. Begitukah lelaki? Bahkan aku hanya bercanda meminta putus dengannya, namun iya mengiyakan. Sungguh, hatiku bagaikan menahan sakit yang tak tertahankan lagi. Makin remuk. Sejak saat itu hubungan kami tak lagi membaik meski dia menarik ucapannya bagaikan belas kasihan untukku.

Kami LDRan sejak pacaran. Dia adik kelasku, dan aku kuliah di kota provinsi kami. Namun, mungkin itulah bukti bagaimana aku menyayanginya. Tak segan hatiku, tak lelah tubuhku selalu pulang setiap pekan untuk menemuinya. Hanya sekedar melihatnya, bersalaman dan bercerita singkat secara langsung dengannya. Namun itu membahagiakanku. Setan semakin memaikan hati kami. Hal ini berlangsung sekitar setahun di awal kami pacaran.

Namun anehnya, ketika kami berada di kota yang sama, bahkan tempat yabng telah dekat, rasanya kami semakin jauh. Dia memiliki kesibukan sembari menunggu kuliahnya.

Ketika libur kuliah dimulai, aku pun kembali ke kampungku. Nyaris, kami kadang lost kontak. Jaringan yang tak mendukung pernah membuatnya marah, membutnya bosan, membuatnya tak lagi menghubungiku. Ungkapnya, kartu nya bermasalah. Namun, terbesit pemikiran negatifku. Andai dia menyayangiku, apa susahnya mengganti kartunya.

Ini tak lagi adil. Aku menunggu dan menunggu, bersabar dan bersabar. Hingga suatu ketika dia memasuki waktu perkuliahannya. Seminggu kami tak berkomunikasi. Ku uji diriku dengan kesabaran. Lalu setelah kembali apa yang di perbuatnya. Dia memutuskan hubungan kami. Hati mana yang tak teriris dengan sikapnya. Seburuk itu kah aku, mengapa iya memperlakukanku demikian. Apa salahku, dekat dengan lelaki lain pun tidak.

Dengan sigap ku tak tahan menahan sakit ini. Sehari kulewati dengan susah payah. Ku berpikir, apalah arti hidupku esok. Tak tahu bagimana tanpanya. Ku tak tahu kemana diriku lagi. Kuliah tak pernah baik lagi. Pikiranku kemana-mana. Belajar di ruang kelas pun aku masih saja menangis. Meski telah menahannya. Aku takut temanku melihatnya.

Semudah inikah, aku tak ada apa-apanya lagi untuknya. Dia tak pernah galau sepertiku. Semudah inikah untuknya? Melihat fotonya bersama temannya membuatku muak. Apakah ini alasannya. Hanya untuk lebih leluasa bersama temannya? Tak adil rasanya. Sungguh tak adil. Namun, sebulan kemudian dia kembali memainkan hatiku. Kami balikan, tanpa berpikir panjang aku begitu mudahnya menerimanya. Semudah ini kah aku? Kemana harga diriku?

Padahal aku sudah aktif halaqoh. Telah aktif di LDK. Rasanya tak tenang, aku gelisah dengan dosa ini. Meski demikian, setan masih lebih menguasaiku. Aku terlalu menyayanginya. Menyayangi yang belum halal buatku. Namun dia tak ada bedanya ketika memutuskanku sebelumnya. LAgi-lagi tak berlangsung lama, dia kembali memutuskanku. MAkin muak hatiku dengannya. Bagaikan mainan, dia datang dan pergi sesukanya. Aku bukanlah diriku. Andai temanku tahu sikapk, mereka akan akan memarahiku. Inda sebelumnya bukanlah yang seperti ini. Tak mudah jatuh cinta, terlebih dipermainkan cinta. Tapi dengannya, dia teramat meluluhkanku.

Meski sakitnya selalu saja membekas cinta itu masih untuknya. Masih saja kumenggangunya. Meski di satu sisi aku malu pada diriku sendiri. Tak sampai di situ sakitku. Caranya makin menyakitkan. Berselang 3 bulan kami putus, dia mengungkapkan peraaannya pada orang lain. Ya Allah sungguh masih layakka aku bertahan? Ku mencoba menjauhinya dengan sangat berat. Entah mengapa setiap kali dia menghububgiku, hanya sekedar menyapa pun aku membalasnya dengan respon seolah aku baik-baik saja.

Namun sebulan terakhir ku bertekad mengubah pemikirabku. Ku ambil sisi postitifnya. Kubiarkan perasaan ini berlalu, kubiarkan sakit ini berakhir dengan makin banyaknya perilkanya yang membuatku muak. Aku mengingat ucapannya. Mungkin dia telah berhasil memalingkan kembali perasaanku.

Berharap bulan ini, tepat setahun dari kegalauan ini aku pun pelan hanya meninggalkan bekas. Tak lagi meninggalkan harapan. Sadar, diriku belum layak untuk dicintai orang lain. Belum ada yang baik, dosa ini terlalu banyak untuk memikirkan cinta. Berupaya kupantaskan diriku. Pacaran buatku harga mati yang tak untuk kuulang kembali. Kupercaya pada janji Nya. Perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik. Itulah selalu kuupayakan menjadi yang terbaik, meski bukan baik di matanya lagi.

Kucoba berteman di bbm. Kutahan niatku untuk berkomunikasi dengannya. Karena ku tahu ku tak lagi yang dulu. Muslimah sejati adalah dia yang mampu mrnahan semua yang diperintahkan Allah. Meski berat, tapi inilah yang terbaik. Kami cukup berteman, menghilangkan rasa pelan-pelan. Menormalkan keadaan, seolah tak ada hal spesial dahulu antara kami. Kubiarkan dia dengan kebahagiannya, kutak peduli berpa banyak hati yang menguetuk dirinya kini. Ku tak ingin tahu seperti apa dia, dimna dia, sehatkah dia atau apapun itu.

Ku hanya fokus pada tujuanku. Ku harap kami bertemu kelak dengan hal yang baru. Tak ingin kutinggalkan dendam. Tak ingin ku simpan sakit hatiku lagi. Ku ambil positifnya. Karena dengan jalan ini, ku mampu berlapang dengan yang direncanakan Allah.

Entah apa yang di bwei Allah untukku esok. Ku harap ku mampu bangkit, kembali fokus pada kuliahku. Berada di antara pilihan yang akhir-akhir ini menggagui pikiranku. Tapi ku percaya doa ini akan menjawab seiring dengan prosesnya. Ku bisa membanyangkan apa hasil 2 proses ini.  Apapun itu esok, ku yakin itu yang terbaik.

Berdamai dengan masa lalu, sesulit apa pun itu. In syaa Allah. Ini mudah, ketika berprasangka baik. Karena Allah telah menjajikan yang terbaik.
Tak lagi ingin kata ini terucap dikemudian hari "Betapa durhakanya aku, mempertahankan apa yang tak seharuanya. Aku menolak ayat Allah, hanya untuk urusan duniaku. Astagfirullah!!!"

Tidak ada komentar: