Kamis, 10 Desember 2015

Diriku dan Keyboardku

Tanganku memang berat untuk gemetar seperti waktu-waktu yang lalu, saat dimana masih kudendangkan suara ketikan di keyboard Nbku. Aku tak tahu pasti dimana letak ketenangan ruhaniah ini, selain mengingatNya. Aku takkan lupa satu hal hingga nanti, seberat apapun itu, jangan pernah lepaskan Allah dari dalam hati, jika perlu menangis untuk menghadirkanNya itu pun tak mengapa, karena pada akhirnya hanya Dialah dirimu kembali.
Terasa aneh meski aku tak tahu lagi kesedihan mendalam sejak beberapa bulan terakhir. Ketika pelan-pelan tiap-tiap yang begitu aku senangi harus berakhir. Aku takkan menyesali, karena aku yakin Allah telah mengaturnya dengan lebih baik. Jika di awal malam ini keluhanku hanya seputar batinku, “mengapa aku begini?” aku pun telah bosan dengan pertanyaan ini. Sejak 3 tahun yang lalu selalu saja aku mengulanginya. Batinku, gerutuku tak mampu kutulis dan kulukiskan dengan pena maupun kicauan keyboardku. 
Aku hanya rindu berucap, “tenanglah, selangkah lagi kau lepas Inda, majulah, setelah ini jalan yang lebih berat selalu pasti. Jika jiwamu tak mampu, Allah akan gantikan dengan jiwa yang lebih baik. Bersyukurlah, bisa jadi ada yang ingin berada dalam posisimu. Bukankah kau pernah memimpikan waktu ini?”
Hei jiwa melemah...
Bukankah kau mampu untuk kuat?
Bercerminlah...
Masa depan cerah dengan jiwa gigihmu tengah menanti
Ingatlah harapan...
Orang yang mengenal, yang pernah melihat, dan yang ada sekarang...
Jika awan mendung, haruskah kau mengkikutinya?
Jika datang hujan, haruskah jiwamu ikut terkikis olehnya?
Tidak, sama sekali tidak...
Sosok kuat dan hebat itulah kamu...
Bangkit, jiwa pejuang nan gigih tengah menulis dikalbumu...
Kelak akan tertorehkan tinta JIKA KAU HEBAT
Makassar, dengan sedikit galau bisa jadi, atau sedikit bingung mau menulis TA judul apa, atau sedikit merasa sepi ketika tak ada siapa-siapa, atau bahkan tengah bermimpi. Nurindah Fajarwati Yusran (10-12-2015)

Tidak ada komentar: