Kamis, 28 Juli 2016

Maaf Hamba Terlalu Sibuk

Maaf hamba terlalu sibuk

Moment Ramadhan  dominasi jualan daripada ibadahnya😢😂. Kalau diingat bawaannya pengen mutar waktu biar Ramadhannya balik lagi. Ya Allah, ampuni hambamu ini. Dosanya miliaran, taubatnya mood-moodtan. Ahh jangan sampai cerita aib sendiri. Banyak dosa, kurang amal, astagfirullah. Sekarang sudah memasuki tanggal 8 Juli, dan tidak terasa deadline tugas kampus semakin mendekat. Semakin ingat kampus, semakin terasa beban yang dibawa lari. Lari dari kenyataan jika hidup tak bisa santai. Sejak setahun lalu, sejak aktif di kajian Organisasi Islam saya mager kalau dikata "pulang kampung". Sekalipun uang jajan sudah ssmakin menipis, bukan sebuah alasan untuk pulang. Jika terhitung sejak 17san yang lalu, pulang hanya 20an kali itupun hanya semalam di rumah. 😂Bukan sebuah alasan, berada atau bahasanya kembali ke rumah dengan amanah dakwah di pundak luar biasa bebannya. Terlebih jika melihat kondisi keluarga yang masih seperti sekarang. Kadang mulut ingin cerita panjang, tapi waktu tak memungkinkan. Dan sekarang, di moment lebaran ini alasan pertama telah tergugurkan. Hanya saja nyali masih stagnan. Seperti inilah perjalanan si pengembara menuju kebaikan. Takut bicara karena sadar hati ini belumlah sebaik pemikiran. Dakwah pada keluarga betul-betul terasa tantangannya. Bahkan jauh lebih menantang dibandingkan ngontak aktivis di awal-awal amanahnya.

Melihat progres yang boleh di kata biasa saja. Rasanya setelah lulus makin berat meninggalkan jamaah di kota sana. Takut futur adalah alasan pertama, selebihnya jika kembali di kampung akan kudet media, kudet perkembangan masyarakat dan tentu saja selalu rindu jamaah. Dakwah di rumah sendiri saja beratnya bukan main. Bagaimana jika di masyakarat? Tantangan ini begitu terasa karena orang tua bukanlah orang-orang yang  paham Islam. Memiliki pemikiran keras, yang tentunya tak semudah membalik pemikiran mereka kembali berpemikiran Islami. Bahkan pemikiran tradisional orang tua yang dibodohi media akan ormas Islam yang abal-abal pun semakin memperlambat gerak dakwah. Namun tanpa dipungkiri pelan namun pasti kekeliruan itu mulai memudar.

Memang benar pendapat para akhwat yang lebih dulu berjuang dalam dakwah. Dakwah pada keluarga jauh lebih berat. Tetapi kembali ke tujuan awalku sebelum meyakinkan diri untuk hijrah. Aku memahami keluargaku, di sanalah kewajiban untuk mengubah mereka. Jika bukan diriku siapa lagi? Namun, banyak kondisi dimana ketika diri sendiri berbuat salah sedikit saja, kebaikan ini akan jauh tertutupi dibanding kesalahan itu. Dan momen kali ini aku tergagap dengan ujian yang diberikan olehNya.  Berkali-kali membuat kesalahan, berkali-kali dibuat emosi, dan  lagi-lagi dosa yang benar-benar menjrbakku.
Dan semuanya bukan sekedar sebuah kisah tanpa.pemaknaan. Terima kasih Allah dengan tiap kesadaran di segala dosa-dosaku. Sadar untuk terus berproses semakin baik. In shaa Allah

#barudipos

Tidak ada komentar: