Sekelumit ujian bertahan di jalan dakwah.
Terkadang, ketika perasaan melemah. Ingin rehat, ingin istrahat, bahkan pernah terbesit ingin melarikan diri dari amanah yang datang silih berganti. Yaaa, kita lah yang butuh didakwahi.
Allah hadirkan para penyemangat entah dalam bicaranya, bahkan dalam diamnya. Gerak - geriknya seolah-olah berkata "jangan menyerah, aku ada untukmu. Jangan menyerah ini belum lah seberapa. Sabarlah sedikit lagi, tempat kekal ada didepan mata".
Semua itu menukar kondisi. Ketika kita kembali bersemangat, datang lagi ujian. Entah dari keluarga dekat, kerabat, kawan, dan kondisi sosial yang semacam memaksa. Hentikanlah aktivitasmu, keluarlah dari sana, tinggalkanlah dan cobalah dunia baru.
Materi, pegangan terkuat yang bisa saja mematahkan seketika hati yang tak kuat. Bahkan ucapan semenit maknanya begitu membekas. "Ngaji? Kajian? Memangnya ada apa dibalik sana? Apa pula yang kamu perbuat? Memangnya itu mampu membuatmu mendapatkan uang? ".
Sungguh, sedih rasanya. Ditambah lagi "Apakah kajianmu lebih penting dari keluargamu?". Pelan, aku berkata. "Maaf, Allah lebih penting dari segalanya, bahkan Allah, berjuang dijalanNya, jalan dakwah ini lebih aku cintai dari apapun jua dimuka buminya. Harta? Keluarga? Itu tak ada apa-apanya dibandingkan Allah. Karena Allah lah yang menghadirkan semuanya. Hampir saja terlontar. "Jika begitu minta uanglah lewat sana."
Lalu? Dari siapakah kritikan itu? Dari siapa semua perkataan itu?
Semua itu berawal dari sini. 2 Bulan sudah saya menyelesaikan studi di bangku perkuliahan. Mencari pekerjaan yang cocok itu bukan hal yang mudah. Ditambah lagi dengan kondisi hari ini. Tak ada jaminan pekerjaan yang mampu menjaga kita untuk tetap berpegang pada syariat Islam kecuali sedikit. Yaa, aturan yang dijalankan dalam perusahaan tak mampu menjaga para karyawannya.
Ditambah lagi, saya tetap bersikukuh untuk kerja di media itu. Namun, belum rezekinya berada disana saat ini. Ya tentu saja, lulus kuliah masih ngekor sama uang ortu. Kerjanya belum jelas, pendapatan dan pengeluaran kini tak sejalan.
Semakin hari pengeluaran saya semakin bertambah. Bergantung pada orang tua, siapa sih yang suka hal itu? Terbentang dalam pikiran yang lebih dalam. Saya tau betul, kondisi ekonomi keluarga saya. Sikap materealistis manusia yang tidak paham kedudukan seorang perempuan. Seolah-olah itu mengharuskan saya untuk bekerja. Dan satu lagi. Masalah keluarga yang tak pernah terselesaikan sejak awal. Yang amat sulit diceritakan bahkan di blog pribadi.
Disisi lain, itu yang membuat saya harus kuat, harus berpenghasilan, harus dan harus.
Sungguh benar, apa yang terlihat diluar belumlah sama yang di dalam. Namun saya sangat yakin, fokus pada masalah hanya membuat saya terpuruk.
Berbicara pada orang awam seperti keluarga saya sendiri adalah dawkah paling berat selama ini.
Saya paham, saya tahu kedudukan saya sebagai anak dalam keluarga saya. Dan saya tak menafikkan apa saja yang mereka harapkan dari anak sulungnya.
Namun, saya kecewa dengan tanggapan mereka persoal kedudukan dakwah yang akan terus saya perjuangkan.
"Tak serupiah pun uang kami dapat dalam menjalankan ini".
Dan jalan ini lebih penting dari keluarga. 😩
Dan esok bahkan saya akan menambahkan. Saya tahu Allah yang memberi rezeki, mengapa saya harus takut tak lagi diberikan uang bulanan? Mengapa saya harus takut diancam ini dan itu.
Namun apa daya, masih kecut iman saya. Ini masih sampai dihati saja.
Seandainya saja materi, kedudukan dunia yang kami harapkan. Memikirkan umat, disetiap waktu yang kami upayakan, kesenangan duniawi yang ingin kami capai. Mungkin saja, sejak awal semuanya telah meninggalkan jalan juang ini. Mereka akan sibuk dengan pekerjaan kebanyakan orang diluaran sana. Untuk materi dan materi yang tak serupiah pun dibawa mati. 😢
Apa yang saya alami tak ada apa-apanya. Orang sebelumnya lebih dulu merasakan ini. Bahkan jauh lebih berat dari ini. Naik level pada keimanan sama halnya dengan ujian naik kelas. Rasanya tidak mudah jika tak dipelajari. Rasanya berat saja jika tak diupayakan untuk menyelesaikannya. Namun, semuanya terbayar jika ada hasil ujian yang telah keluar. Dan kadang pula hasilnya tak sama dengan apa yang kita harapkan. Dan inilah ujian. Seperti ini adanya. Allah senantiasa mengingatkan "sabar dan sholat" kunci untuk bertahan...
Tak ada uang, namun berada dalam jamaah lebih nikmat berkali lipat rasanya. Tak ada uang, berkisah aktivitas dunia menuju akhirat jauh lebih nikmat rasanya. Semua itu bahkan lebih nikmat dibandingkan berada dalam keluarga tercinta. Mencintai Allah dan Rasul, mencari Cinta mereka bukan pekerjaan mudah.
Pantaslah jika dikatakan. Para pejuang itu tak boleh cengeng. Para pejuang itu tak boleh menyerah, apalagi kalah dengan ujian. Namanya saja pejuang. Berjuang dan berjuanglah kerjanya.
Tak lagi pantas jika ada ketakutan persoal materi. Pekerjaan? Yang terbaik akan datang diwaktu yang tepat. Yang terpenting terus berusaha. 😂😂😂😂😂
Tidak ada komentar:
Posting Komentar