Nasihat berbekas di 17 Juni, pada buka bersama se Mahally Stimik dkk. Perlu diketahui, mahally baru adalah roda dakwah baru. Pertanda semakin kuatnya ujian di depan mata, semakin luasnya tentangnya, dan tentunya harus semakin siap berkorban jiwa dan raga demi Islam.
*Dek bagaimana mungkin dakwah dikeluarga optimal jika pulang kampungnya adik-adik semisal di hari Raya, pagi sama teman, siang sama teman, pulang pas mau magrib, malam kelelahan.
Masyaa Allah, saya teringat beberapa tahun silam. Dan yang paling saya ingat adalah adik saya sendiri, ya jika dikata waktu untuk teman dan sahabatnya itu lebih lowong. Khususnya di perayaan besar Id Fitri dan Idul Adha dimana semua keluarga berkumpul, banyak tamu yang kerabat berdatangan tapi dianya sibuk dengan temannya, door to door tapi bukan ke keluarganya.
Saya pribadi beberapa tahun belakangan memang sudah malas jalan jauh-jauh, atau sekedar siarah ke teman-teman. Palingan di rumah sepupu tidur sampai sore. Tapi kondisi ini ketika masih berstatuskan mahasiswa. Mungkin sekarang beda lagi karena sudah kerja. Intinya pola pikir Inda sekarang terbentuk 90 derajat berbeda, in syaa Alah lebih dewasa lah.
Meski hanya 2,3 jam dari kampung, dari rumah dan dari keluarga. Semakin terasa sulitnya berkumpul, semua sibuk dengan urusan masing-masing. Dan, PR besar pulang kampung kali ini begitu berat rasanya. Tersebab usia semakin dewasa, ada banyak hal yang mesti tuntas bicara empat mata, baik sama Ummi, atau sama Mama.
Mulai dari dakwah yang sudah berubah caranya, tantangannya baik secara jamaah maupun individu saya sendiri. Mesti sabar, belajar dulu sebelum pulang. Belajar berbicara jauh lebih baik, lebih sopan, ndak ngotot, pokoknya belajar banyak biar tak dikata bunuh diri retorika tak berakna di depan keluarga...
Sudah jalan 3 tahun perubahan secara pribadi terlihat oleh mereka. Inda yang tak lagi di ajak pergi-pergi sama om, tak lagi di bonceng, dan Inda yang semakin di jauhi sebagaimana seharusnya.
Jika dulu duduk berdampingan, akrab pakai banget, alhamdulillah sekarang sudah beda. Jauh berbeda, awalnya sedih, masih dominan perasaan sekarang bersyukur mereka sendiri yang mengerti kondisi dan pandangan yang sekarang.
Jika dulu sering di kata ustadzah, terlalu alim, alhamdulillah sekarang sudah normal kembali dan tentunya dulu sering di tegur bandk salahnya sekarang tidak lagi. Meski rindu juga dengar tante, om marah-marah 😁.
Jika pulang kampung kali ini masih toh belum clear semua planning jadinya sama saja belum siap dengan planningnya. Optimis saja, jadi power ranger beberapa menit lah, belajar sabar berhadapan dengan yang awalnya sulit memahami maksud yang akan diungkapkan...
Hanya minta restu semoga harapan di tahun mendatang bisa terealisasi dengan baik. Makin dewasa, terlebih usia kini menginjak umur 22 yang tak lagi muda. Jika mereka katanya harusnya sudah menikah, duhh calonnya saja belum ada. Siapnya saja belum, wajarlah doanya sampai saat ini belum juga matang sampai ke sana.
Hanya saja, rindu kuliah lagi, berharap bisa bersolo karir, jadi penulisnya bisa terwujud cepat-cepat. Pokoknya bahagiakan keluarga dulu lah baru bahagiakan keluarga lain.
Sulit juga sih memulai, keluarga bawaannya ribet-ribet gampang. Tapi jika dipikir-pikir sudah waktunya, kesempatan emas, semuanya harus jalan.
Dan bahkan semakin hari semakin paham, pernanan anak tertua seperti apa, beban mereka bagaimana, naun semua ada jalannya, Allah pasti beri kemudahan.
Pegangan dakwah besar sungguh benar jika di kata keluarga no satu. Entah dukungan langsung, dukungan opini, dukungan doa dan syukur-syukur berada satu barisan dengan mereka.
Semalam berpikir positif dan terus berharap, apa yang digenggam saat ini keputusan terbaik. Semoga amal jariyah, dan bukan malah banyak pelanggaran syariatnya.
Disisi lain, ingin membuktikan akhwat kerja rasanya seperti apa, tantangannya ssberat apa, konsekwensinya pun bagaimana. Meski baru akan menginjak 3 bulan magang, hampir setengah tahun di marketing, intinya ini tak mudah, dan taka da jalan ke mudah-mudahkan nya.
Begitu banyak pelajaran berharga, dan pilihan untuk turun dari ujian, atau paling tindak menghindar sebentar saja tidak dapat dilakukan sama sekali. Sama sekali tsk bisa.
Apapun itu yakinlah selalu ujian tunangannya selalu tepat dihadapan Allah. Diberiakn sesuai porsi kemampuan, tak kurang dan tak lebih. Jika pun selesai, akan tetapeiganti dengan ujian baru, dan bersyukur jika jauh lebih berat lagi.
Semoga realisasi di Idul Fitri nanti terwujud.
Amiin
18 Juni, pukul 9 Pagi. 23 Ramadhan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar