Sabtu, 09 Mei 2015

Nfy

Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. MAka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh(urusan), yang lain, dan hanya kepada TuhanMula hendaknya kamu berharap. (Q.S Al Insyirah: 5-8).

Hanya beberapa ayat dari Qalamullah begitu bermakna. Begitu sadar duhai hati berapa lama kakimu berpijak di muka bumi, berapa lama nafasmu menghirup anugrah Allah, merasakan berkah kehidupan namun kebanyakan yang di kerjakan sebuah ke sia-siaan.

Berjalan, bekerja, melakukan aktivitas dunia adalah tanpa sadar berapa banyak dari waktu itu bernilai ibadah. Dari luar terlihat begitu berbahagia, setelahnya "saya LELAH". Nampaknya telah muncul bukti kesia-siaan setiap tindakan. Berjalan hanya sekedar berjalan. Arah tujuan tak menentu. Ingin semuanya mudah, hasil yang baik, namun cara yang tak tepat.

Sering kali katanya mengerjakan sesuatu dengan sungguh-sungguh, namun di lihat lagi niatnya bukan karena Allah semata. Yang bekerja, berniat memperoleh gaji besar, yang belajar, melakukannya demi sebuah nilai atau pencitraan, yang berdagang berniat untuk sebuah uang, dan yang berbuat baik bernilai semata ingin di nilai baik kembali, bukankah di antara perkara itu kita lalai, niat melakukannya bukan semata karena Allah. 

Ya Allah betapa sia-sia nya semua perkara yang di kerjakan ini. Hati berkata telah maksimal, usaha selalu menunggu hasil, waktu menilai pencapaian. Namun selalu lupa. Sebelum, ketika dan setelah melakukannya, akankah niat nya karena Allah?

Setelah perkara yang satu ini. Lain lagi ada pada perkara lainnya. Jika niatnya baik, semata karena Allah. Namun, jika cara menggapainya salah apa bedanya amal yabg di peroleh di kali 0? Hari ini, begitu banyak fenomena yang di anggap biasa namun memperburuk.

Bekerja dengan cara yang haram, menggadaikan aurat untuk sebuah pekerjaan pun adalah sebuah kesalahan.
Dan yang miris lagi menikah yang harusnya dengan keberkahan di nodai dengan jalan pacaran, membuka auratnya di hari akad, berkhalwat yang katanya sekedar pra weding. Biasa memang, biasa jika di kata, tak demikian di mata Allah.

Hari ini, yang berjenggot di kata aliran sesat. Celana cungkring di kata tak gaul, remaja dengan celana kain di kata kebapak-bapakan, yang di masjid meski bukan waktu sholat di kata terlalu fanatik dengan agama. Sama halnya, yang berjilbab syari di kata tak modis, yang berdakwah ke sana-kemari di kata aliran sesat, dan berbagai bukti lainnya. Sebenarnya yang tak gaul itu yang mana? Yang aliran sesat yang mana? Yang fanatik yang mana?

Singkatnya, bukankah seseorang yang mengaku memiliki agama harus fanatik dengan agamanya? Bukankah yang gaul itu yang tau tatanan hidupnya, yang jelas penuntunnya, yang jelas masa depannya.  Itulah mereka yang selalu mempelajari Al-Quran, mengajarkan, dan mengamalkannya. Mengikuti sunah Rosulnya adalah cara mereka menuju taat, berdakwah adalah cara mereka mengamalkan dan mengajarkan apa yang mereka ketahui.

Dan ingat, bukankah kita harus bertanya yang mengaku muslim apa identitasnya? Yang mengaku muslim menganggap Islam hanya sekedar sholat, puasa, zakat dan haji saja? Bukankah manusia terlahir hanya untuk 1 tujuan. "BERIBADAH KEPADA ALLAH SWT". Di umpamakan, cara Allah memberi jalan mengumpulkan amal sebanyak-banyaknya begitu mudah. Tersenyum saja ibadah. Bangun tidur hingga tidur lagi selalu ada doa. Yang semuanya adalah ibadah.

Ya Allah, teguhkan hati ini di jalan takwa. Bantu kami memperbaiki niat, mengerjakan pekerjaan sesuai hukum syara' agar tak ada ke sia-sia an. Agar tak lagi ada kata lelah, namun selalu LILLAH.

Mengapa perkara ini sangatlah penting? karena syarat diterimanya sebuah ibadah adalah tergantung niat dan hukum syara dalam mencapainya.

Muhasabah diriku, kulewatkan dengan berbagi sebuah pengalaman yang nampaknya harus segera kuperbaiki. Semoga bersama-sama menuju takwa.

Tidak ada komentar: