Air mataku tak terbendung lagi. Aku tersadar akan dosa-dosaku. Sejak memasuki bangku perkuliahan. 6 bulan pertama semuanya berjalan dengan normal. Tugas kampus tak begitu berat, beban hidup biasa-biasa saja, hubunganku dengan dia masih tetap sama sebelum memasuki bangku kuliah. Namun, sejak aku rutin menghadiri kajian Jumat ditaman belakang kampus semakin banyak yang berbeda. Setiap malam setelahnya aku menangis. Aku sadar apa yang dikatakan pemateri itu bukan untuk menyindir, tetapi memberikan fakta dosa nyata yang seolah-olah aku lupakan. Rasanya semua yang kuperbuat tak ada setitik pun cahaya iman yang terpancar. Mulai dari caraku berpakaian, bergaul, dan yang lebih parahnya lagi bagaimana ketaatanku kepada Sang Pengcipta.
Sejak saat itu aku berpikir bagaimana mengakhiri kegalauanku ini. Berpikir menjadi pribadi yang lebih baik, dan tentunya dengan perubahanku nantinya mampu membahagiakan kedua orang tuaku.
Jika awalnya aku berpikir untuk memperbaiki akhlak lebih dulu dibanding yang lain, rasanya begitu mengganjal. Terlebih dengan pakaianku yang begitu nyata kesalahannya. Berpakian ketat, memperlihatkan lekuk tubuhku, bahkan bisa jadi ini tabarruj dimata Allah. Sesuai dengan perintahNya dalam Al-Quran “Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin. Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal... (Q.S Al-Ahzab:59)” dan “Katakanlah kepada wanita yang berimanan. Hendaklah mereka menahan pandangannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung keparas dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya... (Q.S An-Nur:31)”.
Dari 2 ayat di atas ku pandangi wajahku didepan cermin kecilku. “Pantaskah aku? Masih kah ada ampunan untuk makhluk pendosa sepertiku. Lantas kapan aku memulainya? Ini terlalu cepat, apa pikiran orang diluar sana ketika melihat perubahanku ini? Padahal di sisi lain akhlakku belum lah baik, toh berpacaran pun masih kujalani hingga saat ini.” Itu sedikit percakapan diriku dengan batinku sendiri setiap paginya.
Diriku tidaklah mudah dengan perubahan, pemikiranku akan pandangan orang lain setelah perubahanku nantinya cukup menjadi alasan menahan hijrahku. Belum lagi dengan keluargaku, mereka teramat awam dengan Islam, tak satu pun yang memakai hijab syari, ditambah lagi belum banyak baju yang memadai untuk kukenakan.
Malam itu, disela-sela waktu menyelesaikan tugas kampusku. Aku memutuskan menerima tawaran teman kelasku, sebut saja Anisa. Dialah sosok yang pertama kali menyodorkanku ayat demi ayat Al-Quran ketika belum ada dosen dikelasku. Awalnya aku berat, karena aku pun sadar dia sedang mempengaruhiku dan aku begitu yakin takkan berhenti dirinya sebelum aku berubah.
Sepekan kemudian, sesuai janjiku dengan Anisa. Aku melangkah dengan pasti, terasa semangat itu meyakinkan diriku. Sesampai ditempat kajian itu, aku baru tahu hanya akulah seorang diri yang akan belajar. Anisa hanya mengantarkanku berkenalan dengan tentorku. Namanya kak Sita, dia berusia 6 tahun diatasku. Sejak hari itu sedikit demi sedikit ilmu Islam kuserap pelan-pelan. Serasa hidup kembali, semuanya kumulai dari nol.
Sepulang kajian, malam itu aku kembali merenungi diri. Makin bersalah diriku, ketakutanku akan dosa-dosa investasiku semakin terasa. Ketika mencoba mengalihkan pikiranku. Inbox dari pacarku akhirnya masuk juga. Kuceritakan padanya, kuceritakan semuanya, setiap kegalauan yang menurutku begitu menyiksa. Meski lama kubercerita, rasanya pada akhirnya bukan solusi, namun pengalihan pembicaraan yang dibicarakannya. Seperti ember kosong yang terus menerus diisi akan penuh juga. Sama halnya perasaan, hati yang tak pernah berhenti dengan permainan setan toh akan luluh juga. Aku begitu mudahnya mengikuti nafsuku dibandingkan pemikiranku. Aku sempat berpikir, apa bedanya sikapku ini dengan akidah yang telah kukesampingkan? Aku lebih memilih setan dari pada ketaatan. Lagi dan lagi aku menunda hijrahku karena pacarku.
Sepekan rasanya begitu lama akhir-akhir ini. Ada sedikit trauma bertemu dengan hari Jumat, dan ditambah lagi dalam sepekan itu harus bertemu dengan kak Sita. Anisa tak ada hentinya memenuhi telingaku dengan ayat Al-Quran ditangannya. Inginku menjauh, tetap saja masuk kampus bertemu dengannya dan duduk di sampingnya. Akankah kunamai ini takdir? Tak pernah terpikir sebelumnya akan berada dalam situasi ini. Yang terberat untukku menujuNya tak lain pula karena pacarku. Sudah setahun lebih kami dengan status haram ini. Perasaanku setiap hari bagaikan bunga-bunga yang selalu saja merasa bahagia jika mengingatnya. Dia memang baik, dari segi akhlak tak ada yang salah dengannya. Dan itu pula yang membuatku semakin berat untuk melepasnya.
Senin sore itu, kak Sita serasa memaksaku memakai jilbab. Jilbab yang awalnya membuatku keliru, yang dulunya kuanggap kain penutup kepala. Kini, aku tahu jilbab adalah pakaian kurung, masyarakat luas sering menyebutnya gamis. Aku tersentak dengan ucapannya. “Dek, jika kita sudah tahu ilmunya, lantas tidak dijalankan, kita tergolong fasik. Dan niat baik itu tak selamanya datang. Jangan sia-siakan hidayah yang ada untuk kita saat ini”. Rasanya teduh mendengar kata-kata kak Sita. Aku pun mulai berpikir, “orang fasik”, siapa juga yang ingin tergolong di dalamnya. Allah memberiku akal untuk berpikir mana yang baik dan mana yang tidak.
Singkat cerita, sebulan setelahnya kutekadkan dalam diriku untuk memakai jilbab. Aku pun risih selalu disindiri kak Sita setiap kali kajian. Malu juga rasanya sering menghadiri kajian jika tak ada yang berubah dalam diriku. Kuniatkan ikhlas karena Allah, meski dihari pertama terasa takut pikiran negatif tentangku dari orang lain. Tetapi kenyataannya, teman-temanku malah mendukung perubahanku, serasa begitu penting mereka pun memberi ucapan selamat dihari pertama hijrahku. Bahagia tentunya, meski dari segi akhlak aku masih begitu jauh untuk dikatakan baik, tapi aku yakin ini awal yang baik untuk menjadi pribadi lebihbaik seperti keinginanku.
Lantas bagaimana dengan pacarku? Meski pelan-pelan telah kukenakan pakaian syari, kami masih berpacaran. Galau? Tak perlu dipertanyakan lagi, setiap hari serasa bodoh dan tak punya malu. Akan kukemankan identitas muslimah hari ini? Aku takut hanya karena diriku orang diluar sana memandang muslimah sebelah mata. Berpakaian syari tetapi tetap berpacaran. Seiring berjalannya waktu, semakin bertambahnya pemahamanku dengan Islam, akhirnya kami putus. Meski begitu berat melepas tiada yang mampu kulakukan dengan mengikhlaskan. Dia yang lebih dulu mengambil keputusan yang tepat. Karena pada akhirnya aku tahu, Islam ini sempurna tidaklah mungkin diriku masuk kedalamnya hanya sebagian. Dan aku yakin jika dia jodohku, kelak akan kembali diwaktu yang tepat. Jika bukan dia, in syaa Allah akan tergantikan dengan yang lebih baik. Itu janji Allah.
Setahun sudah kukenakan jilbabku, aku baru merasakan semua manfaat demi manfaat yang tertorehkan dari benih-benih keikhlasan yang telah kutanam. Mulai dari hubunganku dengan kedua orang tuaku, semakin ku kenal muslimah hebat diluar sana yang begitu gigih dan kecintaannya kepada Islam sangat nampak dalam diri mereka. Meski serasa begitu terlambat memulai mencari jalan yang lurus, aku begitu yakin mengapa tidak menjadi seperti mereka. Bahkan jika bisa menjadi lebih baik dari yang kuharapkan. Aku selalu mengingat sahabat Rasulullah Umar Bin Al-Khattab. Dia yang dulunya begitu membenci Islam, menentang Rasulullah Muhammad SAW dan ketika hijrahnya namanya begitu Indah di bumi Allah. Perilaku buruknya, bahkan aibnya mampu tertutupi dengan ketakwaan dan keistiqomahannya. Bahkan pusaranya kini berada disamping Rasulullah.
Meski begitu jauh untuk disandingkan dengan sahabat Rasulullah, tapi mengapa tidak untuk menjadi muslimah terbaik akhir zaman. Keep istiqomah hingga husnul khotimah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar