Rabu, 30 September 2015

Berita Kelulusan!

Hari itu, hari yang paling dinantikan siswa SMA seluruh Indonesia. Setelah menyelesaikan UAN sebulan yang lalu, akhirnya pengumuman kelulusan itu tiba juga. Khususnya di SMA N 1 Tinggimoncong. Tepat pukul 9:30 seluruh siswa dikumpulkan di Aula sekolah dan dihadiri seluruh guru dan staf Sekolah yang ada. Kami para siswa duduk dengan rapi menantikan guru bagian kemahasiswaan yang akan membacakan setiap amplop pengumuman dinyatakan lulus atau tidaknya kami. Sebelum amplop dibacakan, kepala Sekolah telah memberitahukan ada beberapa siswa yang tidak lulus. Beliau memberikan sedikit motivasi dan penyemangat untuk kami dan khususnya yang harus bersabar dengan ketidaklulusan itu. Dari ratusan siswa ada beberapa orang yang harus mengulang UAN tahun depan, namun mereka diberikan kesempatan melanjutkan kuliah meski belum lulus tahun ini.  Perasaan haru, bahagia dan takut semuanya bersatu. Ketika satu persatu amplop dibacakan secara acak rasa takutku semakin memuncak. Terlebih detik-detik dimana seluruh amplop yang telah dibacakan belum satu pun yang menyebut namaku.
Pesimis dengan kenyataan akan tidak lulus jauh lebih kuat. Dan pada akhirnya, amplop terakhir telah dibacakan dan berakhir sudah pengharapan itu. Saya tidak lulus. “ya Allah, sungguh kenyataankah ini?” Rasanya Allah tak adil jika benar saya salah seorang diantara siswa yang tidak lulus. Spontan, air mata itu terus saja memuncak tanpa ada rasa malu dengan guru maupun teman maupun siswa lain lain yang melihat pengumuman kami. Salah seorang guru matematika membawaku ke ruang guru. Dengan berat hati mau tidak mau kugerakkan kakiku mngikuti instruksi. Sahabat, teman kelasku, adik kelasku, semua menyaksikan drama yang sangat menyedihkan selama 3 tahun di SMA ini. Rasanya mengapa harus aku sebagai pemeran untuk mimpi buruk ini?
Sesampai diruang guru dengan kondisi yang mengharap iba, berharap perubahan ada seketika itu. Serasa berakhir sudah ribuan mimpi-mimpi yang ingin ku capai. TIDAK LULUS SMA, selama hidup tak pernah kubayangkan jadinya seperti ini. Serasa Allah terlalu berat memberi ujian. “Assalamu alaikum, untuk 10 orang ini kami mengumpulkan kalian di sini, bukan dengan maksud yang kurang baik. Namun untuk kenyamanan kalian sendiri, amplop kalian diberikan secara terpisah”. Semua guru yang tadinya di Aula kini berada di hadapanku, di sampingku sebagian memegang tangan kami. “kami guru-guru tidak pernah menginginkan hal ini terjadi, namun kalian pun telah berhusaha dan inilah hasilnya”. Kata guru yang lain. Dan serasa memiliki nomor undian, mereka memberikan motivasi bergantian. Namun tetap saja, otakku berhenti pada keputusasaan. Mana mungkin kehidupan semakin baik jika jadinya seperti ini. Mengapa pula harus aku, apakah mungkin dosaku terlalu besar lantas pantas dengan ujian ini?
Tak lama kemudian, 10 amplop dalam genggaman kepala sekolah. Dengan ketidakberdayaan dan ketidakikhlasan dengan kenyataan, akhirnya kuberikan amplopku kepada guruku. Dia yang membukanya. Dibukanya dengan senyuman “LULUS”, akupun melihat tulisan itu. Tulisan kecil yang menurutku pemberosan harus memasukkannya di dalam amplop. Itu artinya, aku dan yang lain lulus 100% tahun ini. Bahagia tentunya, keajaiban itu masih ada, dan hari ini seperti dalam dunia mimpi. Permainan apa ini? Beberapa menit kemudian dijelaskan secara singkat kejadian ini. meski tadinya 10 orang diantara kami terlihat tanpa masa depan, seketika mendengar jika semua ini hanya akting dari guru-guru yang ingin memberikan kesan yang takkan dilupakan bagi kami, aura kebahagiaan, dan masa depan yang baik kembali terbangun. Tanpa pikir panjang, tak kuperdulikan lagi cerita mereka dalam ruangan itu, akupun berlari dengan membawa sepatu yang tak sempat kupakai tadi. Kutemui temanku yang telah lama menunggu didepan ruang guru. Bisa dibayangkan betapa terharunya kami, betapa berkesannya kejadiaan ini untukku.
Teramat banyak kesan berharga yang diberikan dihari terakhir kami sebagai status pelajar SMA. Di sisi lain, aku mampu merasakan seperti apa perasaan siswa lain yang dengan kenyataan mereka benar-benar tidak lulus. Putus harapan, malu, dan bisa jadi mereka terpuruk. Dengan perasaan bahagia, bersyukur, tentunya kulampiaskan semua pencapaianku selama 3 tahun ini dengan cara yang baik. Coret-coret seragam sudah begitu jauh dari diriku. Jika yang lain sibuk dengan acara kelulusannya dengan cara kebanyakan, akupun memutuskan melanjutkan kebahagiaanku langsung kembali ke rumahku. Selain bersyukur, kembali berpikir positif akan takdir yang diberikannya hanya itu yang kulakukan.

Tidak ada komentar: