“Assalamu alaikum kak, ini Dia saya ingin bertemu”.
Itulah awal percakapan kami setengah tahun yang lalu.”iya bisa dek, In syaa Allah besok saya agenda di kampus STIMIK bisa langsung ketemu disana”.
Sejak saat itulah Allah menakdirkan langkah yang sama dengan jalan yang berbeda. Kami menyadari, baik pertemuan dan perpisahan itu tak lepas dari apa yang direncanakannya.
Mulai dari chat bbm sebelum-sebelumnya, sms dan bahkan dia sering menelpon duluan. Teringat bagaiamana pengorbanan yang dilaluinya mengejar hidayah Allah SWT. Jarak yang jauh dari kosannya tak jadi masalah. Aku sadar betul, berapa banyak orang yang tengah berhijrah sama halnya berapa banyak pula waktu yang mereka putar bersamaan biaya yang mereka keluarkan. Ini bukanlah yang menjadi masalah besar, karena yang menjadi pusat dan tolak ukur pengorbanan adalah, dimana meletakkan pertahanan diri melalui ujian yang rasanya “sungguh ini berat” diawal-awal niat.
Ada-ada saja hal yang hampir saja mengakhiri proses, mengajak kembali ke jahiliyahan yang nyata tipu dayanya. Karena manusia sadar, keimanan takkan ada sebelum adanya ujian.
Lanjut cerita, Dia bersamaku keesokan harinya. Tak banyak kata, karena pertemuan itu hanya sebatas mengahadiri kajian ilmu. Entah apa yang ada dibenaknya hari itu, aku belum tahu banyak tentang dia. Kami pulang bersama, dan alhamdulillah bisa dikatakan pertemuan dua hati yang tertunda itulah kami. Tanpa canggung, satu sama lain kami bercerita pengalaman, masalah yang ada hari itu, dan bahkan keluarga. Hampir sama dengan kesulitan yang kuhadapi, dan mungkin itulah membuat kami nyaman satu sama lain. Semakin intensif komunikasi diantara kami. Bahkan rasanya sehari tidak berkomunikasi dengan dia terasa ada yang kurang.
Pelan-pelan aku tahu sedikit sifatnya, dia lembut, sedikit pendiam, tapi tentu saja perhatian. Perhatian sesama saudara seiman di dalam Islam meruapakan ibadah, dan kami melakukannya serasa telah berteman lama. Mendengar cerita darinya, aku terperanjat dengan kehidupan hedonis di kampus yang bahkan hampir menjerumuskannya. Mengapa? Lingkunganlah yang megharuskannya.
Yang aku kagumi darinya, dia mudah “samikna atho’na’. Tak perlu waktu yang lama buatnya memakai jilbab dan khimar. Bahkan jika dibandingkan semangatku, dia lebih bersemangat kesana-k=sini menghadiri kajian ilmu, atau paling tidak membeli buku-buku agama.
Kami punya cerita kehidupan yang 11 12 hari itu. Tejatuh dengan berharap kepada manusia telah membukakan mata kami akan kesalahan yang telah berlalu. Aku bersyukur bertemu dengannya. Setidaknya, aku bukanlah yang sendiri waktu itu, ada sosok yang tengah berjuang bersama menghentikan derita batin akan dosa-dosa.
Kisah, hidup, cinta dan Islam
Minggu, 01 November 2015
Pengorbanan seorang Dia
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar