Kebiasaan anak SMP setelah melaksanakan UAS. MAsih begitu lekat dalam ingatanku ketika masih duduk di bangku kelas 2 SMP. Secara tiba-tiba beberapa orang temanku membuat rencana akan refreshing ke Sungai setelah duhur. Aku yang berada diantara mereka merasa terpanggil untuk ikut. Jika kemarin anti ikut-ikutan, entah kenapa hari ini tak ingin ketinggalan. "Ke sungai, ini pertama kalinya aku ikut". Kataku dalam hati.
Akhirnya tiba juga waktu yang ditunggu-tunggu. Saat itu masih sangat kurang yang memakai motor ke sekolah. Dengan semangat dan rasa bahagia terbebas dari hafalan Ulangan seminggu terakhir akhirnya kami pun melampiaskan semuanya hari ini. Masih dalam seragam pramuka, sekurang-kurangnya 20 orang yang ikut dengan kenakalan kami siang ini. Tanpa ada yang meminta izin, kulewati saja rumahku dengan santainya. "AMAN, tidak ada yang melihat".
Sekitar satu jam kami berjalan akhirnya tiba juga pada tujuan. Mungkin diantara mereka akulah yang pertama kali mengunjungi tempat ini. Namun, tak ingin dikata kampungan aku bersikap biasa-biasa saja.
Saat teman laki-lakiku melompat dari jembatan yang seukuran anak SMP, menurutku ini menakjubkan. dengan gesitnya mereka berenang, akupun terpanggil dan penasaran dengan dinginnya air sungai itu. Selain itu ingin sekali ku uji kemampuanku, apakah aku mampu berenang atau sebaliknya?
Dengan keyakinan dan mungkin kesombonganku. Kudekati sungai, masuk pelan-pelan ke pinggir sungai. Namun air itu membawaku semakin ke dalam. Sungguh, aku tak bisa berenang, menangis dan berteriak meminta tolong dengan susah payah kulakukan. Semua temanku terdengar panik. Rasanya seperti mimpi, akankah disini ajalku? Bagaimana jika air ini membawaku dan tenggelam semakin dalam hingga mayatku tak ditemukan? Bagaimana dengan orang tuaku, keluargaku? Ya Allah, aku berserah. Kata-kata itu, pikiran itu, dan istigfar berharap Allah masih memberi kesempatan untukku hidup. Sesekali aku mengapung. Beberapa menit berselang, dengan perasaan pasrah dan rasanya mereka tak lagi melihatku. Dari jembatan aku mendengar teriakan temanku. Iya, salah seorang diantara mereka menolongku. Dia menarikku dengan cepat.
Dengan perasaan takut, begitu panik akupun dibaringkan sebentar di atas batu pinggir sungai. Teman-temanku pun mulai terlihat tenang. Merasa bersalah itu pasti, dan rasa takutku masih saja ada hingga saat ini. Tujuan kami ke sana adalah untuk refreshing, berbahagia, dan aku membuat kekacauan. Melepas kepenakan setelah terbebas dari satu semester penuh. Dan khusus untukku sendiri, merefresh kembali sel-sel otakku yang kebanyakan menghafal rumus fisika di semester 2 kelas 2 SMP ku. Ini juga merupakan hal pertamaku yang begitu nekat. Pergi tanpa meminta izin, ingin menguji diri dengan mencoba hal yang tak pernah sebelumnya.
Sejam setelahnya, seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Seragam pramukaku pun mulai mengering. Kupakainya kembali berharap sinar matahari sore mengeringkannya. Kami kembali kerumah masing-masing dengan wajah polos dengan rahasia hari itu yang tersimpan rapi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar