Senin, 25 April 2016

Kartini Masa Kini


Perempuan merupakan sosok yang mulia, identik dengan kelembutan dan selalu menarik untuk diperbincangkan. Namun bagaimana jadinya jika perempuan hari ini selalu inginkan persamaan dengan sosok laki-laki. Jika dilihat dari segi fisik dan tujuan diciptakannya laki-laki dan perempuan telah jauh berbeda.
Kebudayaan yang berkembang dalam masyarakat pun memandang bahwa perempuan sebagai makhluk yang lemah, emosional, halus dan pemalu sementara laki-laki makhluk yang kuat, rasional, kasar serta pemberani. Akan tetapi perbedaan ini dianggap sebagai sebuah diskriminasi yang harus diubah. Dimana para perempuan terus memperjuangkan asas kesetaraan gender atau lebih dikenal emansipasi perempuan sebagai dalih perjuangan mereka. Kesetaraan gender tidak akan pernah lepas dari sosok yang dianggap sebagai perintisnya yakni R.A Kartini. Dimana untuk  mengenang jasanya, hari kelahiran Kartini pada 21 April dijadikan sebagai hari nasional “Hari Kartini”.
Emansipasi yang disuarakan oleh Kartini, sebenarnya lebih menekankan pada tuntutan agar perempuan saat itu memperoleh pendidikan yang memadai, menaikkan derajat perempuan yang kurang dihargai pada masyarakat Jawa, dan kebebasan dalam berpendapat dan mengeluarkan pikiran. Pada masa itu tuntutan tersebut khususnya pada masyarakat Jawa adalah lompatan besar bagi perempuan yang disuarakan oleh perempuan.
Perintis kesetaraan jender di Indonesia tidak hanya Kartini, ada Tjut Nyak di Aceh yang memimpin sebuah pasukan perang mengusir penjajah menggantikan suaminya Teuku Umar. Bagi beberapa kalangan Tjut Nyak Dien merupakan salah satu contoh paling baik kesetaraan gender di Indonesia karena beliau adalah pemimpin tidak hanya bagi kaum wanita tapi juga laki-laki.

Kenyataan
Kodrat perempuan yang lazim kita kenal bahwa setelah seorang perempuan menikah, kemudian akan mengurus keperluan suaminya, melahirkan anak dan menjaganya hingga dewasa. Bentuk kehidupan bagi sebagaian perempuan seperti di atas adalah salah satu bentuk kebahagian yang paling alami, namun bagi sebagian yang lain bentuk kehidupan tersebut adalah pengekangan dimana wanita tidak bebas bergerak dalam menentukan hidupnya sebagaimana laki-laki.
Atas dasar penolakan bentuk kehidupan di atas, maka sebagian perempuan menyuarkan adanya kesetaraan jender antara laki-laki dan perempuan dalam berbagai bidang kehidupan. Ini dibuktikan dengan semakin banyaknya perempuan yang bekerja. Dari 18 negara Asia Pasifik, Selandia Baru (91,4), Australia (91,0) dan Taiwan (90,7) terus menjadi negara yang paling aktif secara perekonomian dengan akses tertinggi untuk pekerjaan formal. Negara-negara tersebut merupakan negara yang paling mendekati kesetaraan dengan kelompok pria dalam hal Partisipasi Lingkungan Kerja (Workforce Participation) dan Pekerjaan Reguler (Regular Employment).
Indonesia sendiri, data menunjukkan perempuan yang memasuki dunia politik meningkat 30 persen di tahun 2015. Perempuan pekerja terus meningkat, tugas sebagai ibu dan pengatur rumah  tangga  menjadi pekerjaan sampingan. Ini menunjukkan hilangnya kemuliaan perempuan dan mundurnya peranan laki-laki.
Selain perjuangan kesetaraan gender secara umum, muncul pula kampanye kesetaraan gender sang aktivis yang berasal dari Philadelphia melakukan aksi aneh sekaligus nyeleneh, yakni bertelanjang dada dan memamerkan payudaranya di jalanan umum.
"Saya ingin semua wanita tahu mengenai hak mereka dan menularkan keberanian kepada mereka agar tidak takut untuk tampil topless," katanya seperti yang dilansir Daily Beast.

Dampaknya
Pemerintah Indonesia rupanya terus latah berkiblat pada Barat dan bertahkim pada ide sekuler kesetaraan gender untuk menyelesaikan tumpukan persoalan yang dihadapi oleh jutaan perempuan Indonesia. Padahal kesetaraan gender bukanlah sebuah nilai yang universal dan sering digunakan untuk mengkriminalisasi Syariah Islam terkait perempuan. Sikap ini pun diperkuat dengan di sahkannya RUU Kesetaraan Gender oleh DPR RI pada 2015 lalu.
Negara memandang kemuliaan perempuan terletak pada kontribusi mereka dalam persoalan ekonomi. Kontribusi perempuan di bidang ekonomi menjadi salah satu tolak ukur kemuliaan perempuan.  Intinya, perempuan ideal adalah mereka yang bisa memberikan kemanfaatan fisik (materi) kepada semua pihak. Itulah pandangan kapitalis terhadap perempuan. Perempuan bukannya lebih maju dan terhormat. Mereka bahkan terhina. Mereka bukan saja jauh dari tuntunan syariah. Bahkan mereka menjadikan liberalisme semakin kokoh.
Data Komnas Perempuan Indonesia pada 2014 menunjukkan jumlah kekerasan terhadap perempuan sebanyak 293.220 kasus. Jumlah ini meningkat setiap tahunnya. Sebanyak 30 persen kasus tersebut terjadi dilingkungan tempat kerja. Akibat lain yang dihasilkan adalah ketimpangan dalam keluarga. Jumlah kasus perceraian yang diputus Pengadilan Tinggi Agama seluruh Indonesia pada 2014 mencapai 382.231, naik sekitar kasus 131.023 dibanding tahun 2010 sebanyak 251.208 kasus.
Jika kondisi ini terus dibiarkan tentu saja berdampak pada generasi berikutnya. Sosok Kartini yang pada awalnya memperjuangkan kemuliaan perempuan pada akhirnya diubah oleh kartini masa kini sebagai keluarnya mereka dari kodratnya sendiri. Perempuan sebagai ibu kini dijadikan sebagai pencari nafkah dengan terus menerus memperjuangkan hak mereka yang dianggap sebagai bentuk emansipasi. Generasi yang seharusnya semakin baik, tercetak dari seorang ibu mulia dan cerdas bukan sekedar intelektual namun dengan sikapnya tidak lagi menjadi tabu. Namun akan lahir perempuan dengan persepsi para feminis yang menganggap kesetaraan gender merupakan bukti kemuliaan.

(Nurindah Fajarwati Yusran. Aktivis Muslimah Hizbut Tahrir Chapter UMI Makassar)

Tidak ada komentar: