Rabu, 20 Juli 2016

Ramadhan Berlalu Syawal Menunggu Kita


Berakhirnya Ramadhan 1437 Hijriyah bukanlah akhir dari ibadah kaum muslimin di penjuru dunia. Dengan berakhirnya Ramadhan harapan besar kaum muslimin ialah dijadikannya mereka insan-insan yang bertakwa. Sebulan penuh pada bulan Ramadhan, setiap orang memiliki potensi yang sama meraih pahala dari ibadah-ibadah mereka. Akan tetapi, ada kekeliruan yang berkembang di masyarakat ketika menyambut Ramadhan. Bagi sebahagian orang, Ramadhan adalah momentum mengejar pahala sebanyak-banyaknya. Orang yang keliru dalam memahami persepsi ini akan nampak diri mereka yang hanya mengejar pahala sebanyak-banyaknya ketika Ramadhan saja. Setelahnya, mereka tak lagi konsisten dengan amal dan ibadah mereka. Ini  dibuktikan dengan kondisi pada bulan Ramadhan dan setelahnya. Sebulan yang lalu, saf-saf masjid hampir penuh oleh jamaah. Ceramah agama selalu terdengar baik di radio maupun dimasjid. Majelis ilmu jauh kali lipat lebih banyak dibandingkan sebulan sebelumnya. Namun semuanya kini berbeda. Shalawat sebelum memasuki waktu sholat wajib bahkan tak terdengar lagi.  Para muslimah yang dulunya berlomba menutup aurat mereka perlahan-lahan kini kembali ke sedia kala, mulai mengumbar aurat. Prostitusi yang sebelumnya diamankan oleh satpol PP kini mulai aktif kembali dan seolah-olah dibiarkan. Kondisi ini terjadi dikarenakan Negara kita sendiri bukanlah Negara Islam meskipun di dominasi oleh mayoritas agama Islam.
Sebagai seorang muslim tentu saja kita memahami Ramadhan adalah training memperbaiki ibadah demi bekal untuk kehidupan di bulan selanjutnya. Mengejar pahala, memperbaiki diri bukan hanya pada bulan Ramadhan. Saat ini kita telah memasuki pekan ke 2 bulan syawal. Bulan Syawal bukan sekedar perayaan hari raya Idul Fitri, halal bi halal dan setelahnya selesai.
Setidak-tidaknya tatkala memasuki bulan Syawal, ada harapan agar terjadi peningkatan kwalitas. Baik kwalitas ketaqwaan bagi mereka yang berpuasa. Jika hal itu ingin dilihat secara nyata, maka akhlak orang-orang yang telah berpuasa menjadi meningkat, tempat-tempat ibadah semakin semarak karena jamaáhnya juga meningkat, orang-orang yang berkesusahan menjadi bisa tersenyum, lantaran persoalan mereka terselesaikan dengan munculnya banyak orang yang semakin sadar membayar infaq. Sehingga, memasuki Bulan Syawal kehidupan menjadi semakin lebih baik dan damai, karena dihiasi oleh akhlaq yang mulia, kedekatan dengan Allah, dan juga dengan sesama makhluk. Akhirnya Bulan Syawal menjadi bulan yang sangat indah.
Dari Abu Ayyub Al Anshori, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ
“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh.” (HR. Muslim no. 1164)
Imam Nawawi rahimahullah berkata, ”Para ulama madzhab Syafi’i mengatakan bahwa paling afdhol (utama) melakukan puasa syawal secara berturut-turut sehari setelah shalat ’Idul Fithri. Namun jika tidak berurutan atau diakhirkan hingga akhir Syawal maka seseorang tetap mendapatkan keutamaan puasa syawal setelah sebelumnya melakukan puasa Ramadhan. Karena seperti itu pun disebut menjalankan puasa enam hari Syawal setelah Ramadhan.” (Syarh Shahih Muslim, 8: 51)
Syaikh Bin Baz rahimahullah menetapkan, berdasarkan aturan syari’at (masyru’) mendahulukan puasa qadha Ramadhan terlebih dahulu, ketimbang puasa enam hari dan puasa sunnah lainnya. Hal ini merujuk sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ
“Barangsiapa berpuasa Ramadhan kemudian diiringi dengan puasa enam hari pada bulan Syawwal, maka ia seperti puasa satu tahun”.
Barangsiapa mengutamakan puasa enam hari daripada berpuasa qadha, berarti belum mengiringkannya dengan puasa Ramadhan. Ia hanya mengiringkannya dengan sebagian puasa di bulan Ramadhan. Mengqadha puasa hukumnya wajib. Sedangkan puasa enam hari hukumnya sunnah. Perkara yang wajib lebih utama untuk diperhatikan terlebih dahulu [8].
Adapun faedah puasa Enam Hari di Bulan Syawal
Ibnu Rojab rahimahullah menyebutkan beberapa faedah di antaranya:
Berpuasa enam hari di bulan Syawal setelah Ramadhan akan menyempurnakan ganjaran berpuasa setahun penuh.
Puasa Syawal dan puasa Sya’ban seperti halnya shalat rawatib qobliyah dan ba’diyah. Amalan sunnah seperti ini akan menyempurnakan kekurangan dan cacat yang ada dalam amalan wajib. Setiap orang pasti memiliki kekurangan dalam amalan wajib. Amalan sunnah inilah yang nanti akan menyempurnakannya.
Membiasakan berpuasa setelah puasa Ramadhan adalah tanda diterimanya amalan puasa Ramadhan. Karena Allah Ta’ala jika menerima amalan hamba, maka Dia akan memberi taufik pada amalan sholih selanjutnya. Sebagaimana sebagian salaf mengatakan, “Balasan dari amalan kebaikan adalah amalan kebaikan selanjutnya. Barangsiapa melaksanakan kebaikan lalu dia melanjutkan dengan kebaikan selanjutnya, maka itu adalah tanda diterimanya amalan yang pertama. Begitu pula orang yang melaksanakan kebaikan lalu dilanjutkan dengan melakukan kejelekan, maka ini adalah tanda tertolaknya atau tidak diterimanya amalan kebaikan yang telah dilakukan.”
Karena Allah telah memberi taufik dan menolong kita untuk melaksanakan puasa Ramadhan serta berjanji mengampuni dosa kita yang telah lalu,  maka hendaklah kita mensyukuri hal ini dengan melaksanakan puasa setelah Ramadhan. Sebagaimana para salaf dahulu, setelah malam harinya melaksanakan shalat malam, di siang harinya mereka berpuasa sebagai rasa syukur pada Allah atas taufik yang diberikan. (Disarikan dari Latho’if Al Ma’arif, 244, Asy Syamilah).

Tentu saja sebagai umat muslim yang beriman, dengan keutamaan dan faedah yang di dapatkan ketika menjalankan puasa syawal tidak akan di sia-siakan. Berusaha penuh melaksanakannya bukan demi mengejar pahala semata, tetapi juga membuktikan keberhasilan puasa Ramadhan yang telah berlalu.

#Desainnya buatan Kak Fatimah😀.
Telat akibat kelamaan di kampung

Tidak ada komentar: