Perjalanan Dakwah Part 1
Rasa syukur tiada henti dengan segala kenikmatan yang diberikan oleh Allah. Tahun ini Allah masih memberikan kesempatan untuk menyelesaikan Ramadhan. Melaksanakan Sholat Ied bersama keluarga secara lengkap. Melewati sehari dihari raya pun semua keluarga masih berkumpul. Meski dalam nuansa yang begitu sederhana, namun kami bahagia. Kebahagiaan yang sampai kapanpun tak mampu terbayar oleh harta. Sungguh tak salah jika aku berterimah kasi pada Ramadhan, berterimah kasih pada lebaran, berterima kasih tentunya pada Allah yang menciptakan kesempatan ini. Jika bukan moment ini, belumlah tentu sanak saudara kami datang berkunjung dari rumah ke rumah. Bahkan jika bukan moment ini, bisa jadi mereka yang memutus silaturahmi belum mampu saling memaafkan. Rasa gengsi untuk meminta maaf terlebih dahulu selalu saja kutemui. Memang betul naluriah seseorang dalam interaksi sosialnya yang kadang terjadi cekcok.
Tentu saja, dibalik bahagia selalu ada kesedihan ataupun duka meski tak banyak. Memasuki tahun kedua ketika pemikiranku mulai berubah, berharap bukan hati yang aku mainkan namun kembali pada syariatnya. Selain kumpul keluarga, bertemu kawan lama adalah bumbu-bumbu bahagia di hari raya. Kebahagiaan semakin bertambah di kala mampu bersua dengan mereka, teman sepermainan dimasa kecil, lebih tepatnya teman seperjuangan untuk meraih suksesnya masing-masing. Bukan sebuah masalah jika mereka perempuan. Toh, kami sama-sama bisa berjabat tangan, cipika-cipiki😁. Namun, jika ia adalah laki-laki yang tentu saja bukan mahram, halal bi halal nampak aneh. Menolak jabatan tangan terlihat sok alim, menolak bersentuhan terlihat terlaku fanatik. Kadang ini alasan untuk tak kemana-mana. Bukan karena menghindar, namun kondisi kampus yang membawaku merasa kaku bergaul bersama teman lama. Dibalik ceritaku, interaksi dengan laki-laki tentu saja tidak lebih dari teman kampus, teman seorganisasi, teman sekomunitas yang semuanya biasa-biasa saja. Semuanya hanya sebatas unteraksi dalam belajar.
2 tahun yang lalu masih santai tanganku bersentuhan tanpa ada perasaan baper. Baper dalam artian tidak sedikitpun perasaan takut akan penjagaan diriku sendiri sebagai seorang muslimah. Kadang moment lebaran juga berubah menjadi moment ghibah, moment yang tak kontrol menceritakan saudara satu sama lain. Sungguh, perasaan bersalah sedikitpun tiada terasa ketika itu. Mungkin benar, semakin kita bermaksiat semakin hati ini tertutupi akan banyaknya dosa.
Menjadi aneh, terasing, nampak sendiri kadang muncul kenikmatan tersendiri. Sadar akan hukumnya, belumlah pasti melaksanakannya. Khusus untuk diri pribadi di tahun ini, masih ada hukum yang dilalaikan. Terlihat fasik dan nampak bodoh, menyesal kemudian tiadalah guna. Kembali mengingat "bagaimana ketika aku melaksanakan sesuatu yang melanggar hukum syara' ini dan seketika di sanalah maut memanggilku??". Ya Allah, terima kasih di setiap wujud cara Engkau menyadarkan hambaMu yang dhoif ini. Nikmat betul bagi mereka yang beriman. Tiada lagi rasa ragu menjalankan mana yang betul-betul wajib dan meninggalkan yang haram. Tanpa perduli perkataan manusia, karena mereka yakin akan Allah sebagai penolong di tiap perkara yang diperbuatnya.
Meski masih ada pertentangan para ulama terkait salaman. Hatiju pun sama, masih bertanya dan membandingkan jika mereka adalah orang tua. Ahh inilah mengapa pentingnya ilmu, jika tak dipelajari, di dalami, di cari terus-menerus maka kita sendirilah yabg akan jatuh dalam lumpur kebodohan menuju jurang kemaksiatan. Masih pada ingatan kata penyentuh hati "Bisa jadi amalan kecil itulah yang membawamu ke surga, atau bisa jadi sebaliknya dosa kecil yang membawamu ke neraka".
Astagfirullah, ketika istigfar tiada arti. Kita paham akan dosanya, tak merasakan yakin akan hukumnya, namun tetap saja dijalani. Bukan seperti lakon dalam sebuah drama komedi. Bukan pula pemeran utama yang selalu terdepan. Perkara syariat benar-benar butuh kesabaran. Berjuang keras menurutku, awalnya memang berat namun semakin lama terasa besar ibrohnya. Cara Allah menyayangi hambaNya, cara Allah menjaga interaksi hambaNya, dan cara Allah menjaga kita, menjagaku, sebagai Muslimah.
#Catatannyamasihpanjang
Tidak ada komentar:
Posting Komentar